Nikmah Ridha Batubara, M.Si
Agama | 2025-04-04 10:07:27

Gema takbir berkumandang di seluruh dunia. Takbir yang sama, menandakan bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Dimana pun berada, seluruh umat Islam sudah seharusnya menjaga persatuan demi kekokohan dien Islam. Ikatan persaudaraan umat Islam sejatinya sangatlah erat, sabagaimana sabda Rasulullah SAW : 'Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR Muslim No 4685). Kita bisa membayangkan betapa luar biasanya ikatan persaudaraan atas dasar aqidah ini.
Namun, apakah faktanya hari ini sama seperti apa yang Rasulullah SAW sampaikan? Apakah kita sudah menjalankan amanah Rasulullah tercinta? Mari kita saksikan, bagaimana saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya melewati hari yang ‘seharusnya’ penuh dengan kebahagiaan ini.
Tahun ini adalah kedua kalinya saudara kita di Palestina merayakan Idul Fitri dengan serangan bertubi-tubi dari penjajah Israel. Walaupun sebenarnya Palestina sudah dalam cengkeraman zionis Israel sejak 100 tahun yang lalu, semenjak runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani. Sungguh fakta yang menyesakkan dada. Dan sampai hari ini kita masih menyaksikan bagaimana kekejaman zionis Israel terus berlangsung. Di saat kita memakai baju baru dan membuat menu makanan spesial untuk menyambut hari yang Fitri, namun saudara kita di Gaza justru memakaikan kafan untuk keluarganya yang syahid bersimbah darah. Allahu Akbar. Betapa pilunya hati ini.

Pertanyaan yang harusnya hadir dalam diri kita. Apakah kita sudah merasakan sakit yang mereka rasakan? Sebagaimana ketika gigi kita sakit, seluruh tubuh rasanya meriang, tak bisa melakukan aktivitas dengan sempurna. Sudahkah hadits Rasulullah SAW itu terasa di dalam diri kita? ataukah kita masih tak perduli dan mati rasa?
Apakah umat Islam sadar, bahwa hari ini kita sudah dipisahkan oleh batas-batas negara. Kita dipisahkan oleh rasa nasionalisme yang dengan sengaja ditanamkan oleh sistem kapitalis untuk membuat kita terpecah belah. Sadarkah wahai kaum muslimin yang satu? Bahwa hari ini kita dikotak-kotakkan, dihilangkan rasa persaudaraan kita yang terikat dalam ikatan Aqidah. Kita diajarkan sukuisme, rasisme dan nasionalisme yang mana hal ini sudah dihapus oleh Rasulullah SAW ribuan tahun yang lalu. Ingatkah kita bagaimana Rasulullah SWT mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar tanpa ada sekat kesukuan?
Seharusnya, kehancuran yang semakin merajalela saat ini membuka mata dan hati kita, bahwa sistem kapitalis yang ada hari ini tak layak diharapkan untuk melahirkan peradaban yang gilang gemilang. Semakin hari kita semakin merasakan kebobrokan dan kerusakan terjadi dimana-mana. Penindasan terhadap umat Islam masih terus terjadi. Saudara kita di Palestina, Rohingya, Uyghur, kaum muslimin di India dan lain sebagainya. Seharusnya kita sadar, bahwa ini adalah buah dari sistem sekuler kapitalis yang mencengkeram dunia saat ini. Sesungguhnya kita membutuhkan khalifah sebagai perisai yang mampu melindungi kita dari kezaliman para penjajah.
Allah SWT menjanjikan kemenangan Islam pasti akan datang. Namun, apakah kita hanya berdiam diri menantikan kemenangan itu? Apakah kita hanya akan menjadi penonton tanpa mau mengambil peran dalam perjuangan meraih kemenangan? Bukankah Rasulullah SAW, Sang Nabi kekasih Allah SWT pun berjuang jiwa, raga dan hartanya demi tegaknya Islam di dunia ini? Lantas siapa kita yang masih terhanyut dengan gemerlapnya dunia.
Allah SWT sudah mengutus Nabi Muhammad SAW membawa Islam hadir di dunia ini dan mencontohkan penerapan sistem Islam yang sempurna. Sistem yang mengatur segala aspek kehidupan secara detail dan terperinci. Sistem Islam yang mampu mengatur seluruh umat manusia dengan keadilan. Sudah saatnya kita bangkit, mengganti sistem ini dengan sistem terbaik yang sudah terbukti nyata pernah menghadirkan peradaban emas yang penuh dengan keberkahan. Wallahua’lam Bishawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.