Pemimpin Tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong-un.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hanya beberapa jam setelah serangan kilat Amerika Serikat mengguncang Caracas dan berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, dunia kembali dikejutkan oleh reaksi keras dari belahan bumi lain.
Pyongyang, yang tampaknya melihat peristiwa di Venezuela sebagai cermin ancaman bagi rezimnya sendiri, langsung membalas dengan peluncuran rudal balistik. Langkah provokatif ini bukan sekadar uji coba militer biasa, melainkan sebuah pesan peringatan dini dari Kim Jong Un, sebuah pernyataan bahwa Pyongyang siap melawan sebelum skenario serupa menyentuh tanah mereka.
Korea Utara meluncurkan setidaknya dua rudal balistik pada hari Ahad (4 Januari 2026), bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung ke China, sekutu utama Pyongyang. Peluncuran ini, yang merupakan yang pertama dalam dua bulan terakhir, semakin memperhebat ketegangan global pasca-serangan AS di Venezuela yang mengakibatkan penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Rudal yang baru saja diluncurkan oleh Korea Utara diidentifikasi sebagai jenis Rudal Balistik Jarak Menengah (IRBM) dan Rudal Balistik Antarbenua (ICBM). Salah satu yang paling menonjol adalah Hwasong-18, sebuah rudal ICBM berbahan bakar padat yang menjadi andalan baru rezim Kim Jong Un. Penggunaan bahan bakar padat ini merupakan lompatan teknologi krusial karena memungkinkan rudal diluncurkan dengan waktu persiapan yang sangat singkat dan sulit dideteksi oleh sistem radar peringatan dini milik Amerika Serikat maupun sekutunya.
Selain ICBM, militer Korea Selatan juga mendeteksi peluncuran rudal balistik taktis jarak pendek yang dikenal sebagai KN-23 (Hwasong-11A). Rudal ini memiliki karakteristik terbang rendah dan mampu bermanuver di udara untuk menghindari sistem pertahanan udara musuh. Kehadiran kedua jenis rudal ini dalam waktu yang berdekatan bertujuan untuk memamerkan kapasitas serangan ganda Pyongyang: baik serangan taktis di kawasan Semenanjung Korea maupun serangan strategis yang mampu menjangkau wilayah daratan Amerika Serikat sebagai bentuk "pencegahan agresif" atas peristiwa di Venezuela.
Korea Utara dengan tegas mengecam tindakan AS, menyatakan bahwa Washington "secara terang-terangan melanggar kedaulatan Venezuela" dan menunjukkan "sifat jahat serta brutal" Amerika Serikat.
Peluncuran rudal dari ibu kota Pyongyang menuju laut antara Semenanjung Korea dan Jepang dilakukan beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung memulai kunjungan kenegaraannya ke China. Kunjungan itu bertujuan mempromosikan perdamaian di Semenanjung Korea melalui pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping.
Menurut Lim Eul-chul, profesor di Institut Studi Asia Timur di Seoul, peluncuran ini merupakan "pesan kepada China untuk mencegah hubungan lebih dekat dengan Korea Selatan serta melawan sikap China terhadap denuklirisasi". Ia menambahkan, Korea Utara juga ingin menyampaikan bahwa "kami berbeda dari Venezuela", sebagai kekuatan nuklir dan militer yang siap merespons dengan "pencegahan agresif".
sumber : Antara

2 weeks ago
18















































