Saat Hati Kehilangan Nyawa, Alquran Solusinya

4 hours ago 6

Oleh : KH. Ahmad Jamil, Ph.D, Pengasuh Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kematian yang tidak menunggu liang lahat. Ia berjalan di pasar, duduk di kantor, dan tersenyum di ruang publik. Namun di dalamnya, hati terasa hampa, mudah lelah, cepat gelisah, dan kehilangan arah. Inilah kematian yang sering luput disadari yaitu kehilangan nyawa batin.

Kehampaan batin itu sejatinya bukan misteri. Ia muncul ketika hati kehilangan sumber hidupnya. Dalam kondisi inilah Alquran hadir dengan cara yang sangat khas, bukan sekadar sebagai bacaan ritual, apalagi hiasan seremonial, tetapi sebagai penopang kehidupan batin manusia.

Menariknya, Allah tidak menyebut Alquran sekadar kitab atau bacaan, tetapi dengan istilah yang sangat mendasar yaitu “ruh”:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Al-Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Alquran itu cahaya, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syura [42]: 52)

Penyebutan ini bukan sekadar bahasa puitik. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Alquran dinamai ruh karena dengannya hati menjadi hidup, sebagaimana jasad hidup dengan ruh. Tanpanya, manusia tetap bernapas, tetapi batinnya sekarat, menjalani hari tanpa cahaya dan arah.

Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa Alquran disebut ruh sebab ia menghidupkan hati, memberi petunjuk, dan menyelamatkan manusia dari kematian maknawi. Sementara Syaikh Abdurrahman as-Sa‘di menjelaskan bahwa hati dan ruh tidak akan hidup kecuali dengan Al-Qur’an; dan dengannya pula maslahat dunia dan agama menjadi hidup.

Ayat ini juga menegaskan fungsi penting lain Alquran, yakni sebagai cahaya. Cahaya dibutuhkan bukan ketika mata buta, tetapi ketika jalan gelap. Dan persoalan manusia modern sering kali bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan cahaya. Informasi membuat kita tahu, cahaya membuat kita melihat. Informasi menambah data, cahaya menuntun arah.

Karena itu, Alquran tidak hanya menenangkan, tetapi menjernihkan. Ia memberi nama pada luka: sabar. Memberi arah pada takut: tawakal. Memberi makna pada kehilangan: ujian. Memberi tujuan pada hidup: ibadah.

Hidup dan Matinya Hati

Alquran sendiri menegaskan bahwa ukuran hidup bukan semata jasad:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ

“Dan apakah orang yang mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengan cahaya itu ia berjalan di tengah manusia…” (QS Al-An‘am [6]: 122)

Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati memiliki kehidupan dan kematian sebagaimana tubuh. Hidupnya hati adalah dengan Al-Qur’an dan dzikir, sementara matinya adalah dengan kelalaian dan dosa. Hati yang jauh dari wahyu akan mengeras, meski lisannya fasih dan pikirannya cerdas.

Pemahaman inilah yang membuat generasi awal Islam menempatkan Al-Qur’an bukan sekadar sebagai bacaan ritual, tetapi sebagai sumber kehidupan jiwa. Para sahabat dan ulama mempraktikkan hubungan yang hidup dengan Al-Qur’an yakni hubungan yang membentuk akhlak, ketenangan, dan arah hidup.

Para sahabat dan ulama memahami hakikat ini dengan sangat jernih dan praktis. Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah kenyang dari Al-Qur’an,” sebuah pernyataan yang bukan retorika, melainkan cermin kejernihan jiwa. Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu mengingatkan bahwa siapa yang ingin menilai cintanya kepada Allah, hendaklah ia melihat hubungannya dengan Al-Qur’an.

Hasan al-Bashri menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, bukan sekadar dilantunkan.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menjelaskan bahwa penyakit paling berbahaya adalah penyakit hati seperti riya’, hasad, cinta dunia, dan lalai yang tidak akan sembuh kecuali dengan tadabbur Al-Qur’an yang menghadirkan kesadaran, rasa takut kepada Allah, dan orientasi akhirat; membaca tanpa kehadiran hati, kata beliau, ibarat obat yang tidak ditelan. Sejalan dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa hidup dan matinya hati sangat bergantung pada Al-Qur’an dan dzikir; hati yang dekat dengan wahyu akan hidup, lembut, dan bercahaya.

Read Entire Article
Politics | | | |