REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Anggapan bahwa santri akan otomatis mendapat barokah setelah keluar dari pesantren terkadang dipahami sebatas keberhasilan materi dan kemapanan hidup. Namun, ditegaskan bahwa barokah pesantren sejatinya tidak lah seperti itu.
Lantas apa makna barokah yang akan didapatkan santri setelah keluar pesantren?
Salah satu pengajar dan pegiat literasi dari Pondok Pesantren Sidogiri, Ustaz Alil Wafa menjelaskan bahwa barokah pondok pesantren tidak semestinya diukur dengan capaian materi semata. Penegasan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan peserta dalam Seminar Rojabiyah yang diselenggarakan oleh PK IPNU Taman Sari, Pamekasan.
Dalam seminar tersebut, salah seorang peserta mempertanyakan makna barokah pondok di tengah realitas banyak lulusan pesantren yang masih kebingungan menentukan arah hidup setelah lulus, termasuk dalam urusan pekerjaan dan ijazah formal. Pertanyaan itu merefleksikan kegelisahan santri tentang hubungan antara pengabdian di pesantren dan hasil nyata setelah kembali ke masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Ustaz Alil Wafa menekankan bahwa barokah adalah konsep yang nyata, namun sering disalahpahami. “Jangan sekali-kali mengukur barokah dengan materi. Barokah itu nyata, betul, fakta, tidak bisa dipungkiri, tapi kita perlu memahami barokah itu apa,” ujarnya dikutip dari video yang diunggah akun resmi Pondok Pesantren Taman Sari Palengaan, Pamekasan, Rabu (14/1/2026).
Ia menuturkan, secara sederhana barokah berarti ziyadatul khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam diri seseorang, apa pun kondisi yang dialami. Karena itu, menurutnya, kekayaan atau kesuksesan materi tidak otomatis menjadi tanda barokah, begitu pula sebaliknya kemiskinan atau kesulitan hidup bukan pertanda ketiadaan barokah.
“Jangan dikatakan, wah Mondok di Taman Sari boyong jadi orang kaya, wah barokahnya mondok. Kan kasihan yang nggak kaya-kaya kan? Keneng belet (kualat) berarti. Wah alhamdulillah usahanya lancar, barokahnya Mondok. Yang usahanya kemudian rugi terus bangkrut, wah keneng balet (kualatnya) mondok berarti. Enggak, nggak seperti itu,” jelasnya.
Ia menegaskan, usaha yang bangkrut atau kondisi hidup yang sulit pun bisa menjadi barokah apabila justru membuat seseorang semakin dekat kepada Allah dan bertambah dalam kebaikan.
Ustaz Alil Wafa memberi contoh, sakit yang dialami seorang alumni pesantren bisa menjadi barokah jika membuatnya lebih istiqamah dalam ibadah, rajin berjamaah, dan konsisten dalam ketaatan. Sebaliknya, kekayaan dan jabatan yang membuat seseorang lalai dari shalat dan kegiatan keagamaan patut dipertanyakan keberkahannya.
"Kaya, kalau membuat kita semakin tidak sempat berjamaah, bahkan sholatnya bolong-bolong, hati-hati itu bukan kekayaan yang barokah," ucapnya.
Ia juga menyinggung realitas lulusan pesantren yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai standar formal. Menurutnya, kondisi tersebut bisa menjadi barokah jika mendorong seseorang untuk lebih giat berikhtiar, memperbanyak doa, dan membuka jalan kebaikan baru, meski hanya dengan usaha sederhana.
“Jadi barokah itu barometernya adalah semakin baik apa tidak kita? Semakin baik. Jadi kalau membuat kita semakin baik berarti kemudian situasi kita barokah ketika itu, punya pekerjaan ataupun tidak. Jadi jangan sekali-kali mengukur barokah pakai materi, tapi ukurlah barokah dengan kebaikan,” kata Ustaz Alil Wafa.
Ia pun mengingatkan bahwa pesantren mendidik santri untuk menyeimbangkan orientasi dunia dan akhirat.
“Fid dunia hasanah wa fil akhiroti hasanah itu tempatnya kita di pesantren. Jadi bukan dunia saja yang kita kejar, tapi juga akhirat,” ujarnya.

3 hours ago
5














































