Seberapa Berpengaruh Slogan "Jatuhnya Rezim" Terhadap Iran?

3 hours ago 3

Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di Teheran, Iran, Sabtu (10/1/2026). Protes nasional dimulai pada akhir Desember di Pasar Besar Teheran sebagai tanggapan terhadap memburuknya kondisi ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan opsi militer guna mendukung protes di Iran bukan sekadar eskalasi verbal, melainkan dengan cepat berubah menjadi elemen penekan dalam persamaan internal yang sangat sensitif.

Teheran dan Washington sama-sama menguji batas pengaruh timbal balik antara jalanan dan politik, serta protes dan intervensi luar negeri.

Sementara pemerintahan AS ingin menampilkan diri sebagai pelindung para demonstran, retorika ini, yang semakin mendekati bahasa kekuatan, tampaknya justru mereproduksi salah satu dilema tertua dalam politik dalam negeri Iran: bagaimana tekanan eksternal dapat berubah dari alat yang melemahkan rezim menjadi pendorong yang memperkuatnya, meskipun hanya untuk sementara?

Tema ini mengemuka dalam salah satu program Aljazeera, dikutip Selasa (13/1/2026) di mana para analis terpecah mengenai apakah Washington benar-benar memahami sifat masyarakat Iran, ataukah mereka hanya menerapkan model-model siap pakai dari pengalaman lain, dengan bertaruh bahwa ancaman militer akan mempercepat keruntuhan politik.

Peneliti spesialisis isu-isu regional, Hussein Reyran, yang berpartisipasi dari Teheran, memberikan interpretasi yang berasal dari dalam persamaan ini.

Dia memprediksi ancaman intervensi militer AS tidak melemahkan rezim, melainkan mengatur ulang situasi untuk keuntungannya. Menurut logika ini, konflik berubah dari konfrontasi antara rakyat dan penguasa menjadi konfrontasi antara negara dan musuh luar.

Perubahan ini, menurut Riyouran, bukanlah hal yang sepele, melainkan bagian dari pengalaman kumulatif rezim Iran, yang menurutnya telah membuktikan bahwa ancaman eksternal yang luas akan mendorong sektor-sektor sosial yang ragu-ragu untuk bersatu di belakang negara, bukan karena keyakinan politik, melainkan karena takut akan kekacauan atau perang.

Taruhan yang kalah

Di sisi lain, Kepala Pusat Studi Arab-Iran di London, Dr Ali Nouri Zadeh, menolak deskripsi ini dan berpendapat bahwa bertaruh pada persatuan dalam negeri di bawah ancaman eksternal tidak lagi berlaku seperti pada dekade-dekade sebelumnya.

Read Entire Article
Politics | | | |