Setelah Dua Tahun Turun, Emisi Gas Rumah Kaca AS Naik pada 2025

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Emisi gas rumah kaca Amerika Serikat (AS) pada 2025 naik 2,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan dua tahun berturut-turut pada 2023 dan 2024.

Dalam laporan terbarunya, perusahaan penelitian Rhodium Group menyebutkan kenaikan tersebut dipicu rendahnya suhu pada musim dingin yang mendorong penggunaan penghangat ruangan serta pertumbuhan pusat data yang mengomputasi kecerdasan artificial intelligence (AI). Namun, peningkatan emisi ini dinilai tidak terlalu dipengaruhi oleh pelemahan perlindungan lingkungan yang dilakukan Presiden Donald Trump karena kebijakan tersebut baru diterapkan pada tahun lalu.

Para ilmuwan menyatakan emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Emisi karbon dioksida dan metana AS turun 20 persen dari 2005 hingga 2024, dengan beberapa pengecualian selama periode penurunan tersebut.

Biasanya, pertumbuhan ekonomi turut mendorong peningkatan emisi karbon. Namun, pertumbuhan energi bersih dalam beberapa tahun terakhir berhasil memisahkan keduanya, sehingga emisi dapat turun sementara Produk Domestik Bruto tetap meningkat.

Direktur Rhodium Group Ben King mengatakan kondisi itu berubah pada tahun lalu. Emisi AS melonjak lebih cepat dibandingkan aktivitas ekonomi.

Ia memperkirakan AS menghasilkan 5,9 miliar ton karbon dioksida ekuivalen pada 2025, sekitar 139 juta ton lebih banyak dibandingkan 2024. Suhu yang membekukan pada musim dingin juga meningkatkan penggunaan mesin penghangat ruangan yang membutuhkan banyak energi dan umumnya menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak dan gas alam.

King mengatakan lonjakan konsumsi energi paling terlihat pada permintaan listrik pusat-pusat data dan tambang kripto. Fasilitas-fasilitas tersebut umumnya menggunakan listrik berbasis batu bara, sehingga pembangkit listrik menghasilkan lebih banyak karbon.

Ia menambahkan kenaikan harga gas alam juga meningkatkan penggunaan listrik dari batu bara sebesar 13 persen, setelah sebelumnya menyusut hampir dua pertiga sejak mencapai puncaknya pada 2007.

“Ini bukan berarti lonjakan yang sangat tinggi. Kami tidak mengatakan batu bara kembali mendominasi sektor kelistrikan. Namun, kami melihat adanya peningkatan dan itu menjadi salah satu alasan utama mengapa emisi di sektor kelistrikan naik,” kata King, Selasa (13/1/2026).

King menilai langkah Trump membatalkan kebijakan iklim dan menarik AS dari perjanjian serta lembaga internasional yang bertujuan mengatasi perubahan iklim belum terasa dampaknya pada 2025, tetapi kemungkinan akan terlihat di masa depan.

“Sejauh ini baru data satu tahun, jadi kami masih perlu melihat sejauh mana tren ini berlanjut,” ujarnya.

Rhodium juga menemukan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya naik 34 persen, melampaui pembangkit listrik tenaga air. Kini, sumber energi bersih tersebut memasok 42 persen listrik di Amerika.

King mengatakan menarik untuk melihat apakah pemerintahan Trump akan mengakhiri subsidi energi surya dan angin, lalu mendorong masyarakat berhenti menggunakannya. Meski demikian, ia menegaskan alasan ekonomi untuk menggunakan energi bersih masih sangat kuat.

“Biaya energi ini kompetitif di banyak tempat. Pemerintah tidak mudah mengubah fundamental ekonomi tersebut,” kata King.

Ia menambahkan, sebelum Trump berkuasa, Rhodium memproyeksikan emisi gas rumah kaca AS akan turun sekitar 38 hingga 56 persen dari tingkat tahun 2005. Kini, proyeksi penurunan tersebut diperkirakan menyusut sepertiganya.

Pihak lain yang tidak terlibat dalam laporan Rhodium menilai kenaikan emisi pada tahun lalu sebagai tanda yang mengkhawatirkan.

“Sayangnya, peningkatan emisi AS pada 2025 kemungkinan besar merupakan pertanda dari apa yang akan terjadi ke depan, seiring kepemimpinan federal AS terus melakukan apa yang pada dasarnya merupakan kesalahan ekonomi besar yang tidak perlu dengan mengutamakan bahan bakar fosil lama, sementara seluruh dunia bergerak habis-habisan pada mobilitas dan pembangkitan listrik berbasis teknologi rendah karbon, terutama yang bertumpu pada energi terbarukan dan baterai,” kata ilmuwan iklim University of Michigan Jonathan Overpeck.

Overpeck mengatakan pengutamaan bahan bakar fosil akan merugikan perekonomian AS sekaligus kualitas udara. Aktivis perubahan iklim Bill McKibben menyampaikan kritik yang lebih keras.

“Sangat bodoh AS justru bergerak mundur dalam transisi energi bersih,” katanya dilansir laman The Associated Press.

Dalam pernyataannya, Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) menyatakan tidak mengetahui laporan Rhodium Group tersebut dan sedang “menjalankan misi inti kami untuk melindungi kesehatan manusia.”

Read Entire Article
Politics | | | |