REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gangguan pencernaan disebut semakin banyak dialami Generasi Z dan kelompok usia muda. Keluhan seperti perut kembung, asam lambung, sembelit, diare, hingga rasa tidak nyaman di perut yang dulu identik dengan usia lanjut, kini justru umum ditemukan pada anak muda.
Dokter spesialis gastroenterologi dan hepatologi, dr Chandra Sekhar Reddy, mengatakan stres merupakan pemicu utama yang selama ini kerap diremehkan di balik masalah pencernaan pada generasi muda. Menurutnya, banyak pasien muda datang dengan keluhan gangguan pencernaan meski hasil pemeriksaan tidak menunjukkan kelainan struktural pada organ pencernaan.
"Saya sering menemui pasien muda dengan keluhan perut kembung, sembelit, buang air besar tidak teratur, asam lambung, atau nyeri perut, padahal tidak ditemukan penyakit organik. Dalam sebagian besar kasus, penyebab utamanya adalah stres psikologis kronis yang memengaruhi fungsi usus," kata dia seperti dikutip dari Hindustan Times, Selasa (13/1/2026).
Dr Reddy menjelaskan, hubungan antara stres dan gangguan pencernaan berkaitan erat dengan gut-brain axis, yaitu jalur komunikasi dua arah antara sistem saraf dan sistem pencernaan. Ketika stres berlangsung dalam jangka panjang, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol yang dapat memengaruhi pergerakan dan sensitivitas usus.
"Pada sebagian orang, stres membuat proses pencernaan melambat sehingga menyebabkan sembelit. Pada orang lain, aktivitas usus justru meningkat dan memicu diare," kata dia.
Selain itu, stres juga berdampak pada keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Ketidakseimbangan ini dapat melemahkan fungsi pencernaan serta menurunkan daya tahan tubuh.
Untuk mencegah gangguan pencernaan akibat stres, dr Reddy menekankan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat. Adapun jika dibiarkan, gangguan pencernaan akibat stres berisiko berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti irritable bowel syndrome (IBS), penyakit asam lambung, dan gangguan pencernaan kronis lainnya.
la juga menyarankan generasi muda untuk rutin menerapkan praktik mindfulness, termasuk latihan pernapasan serta membatasi penggunaan gawai hingga larut malam. Pola makan teratur dengan asupan serat yang cukup juga dinilai penting untuk melindungi kesehatan usus.
"Karena hubungan usus dan otak bekerja dua arah, gangguan pada usus juga bisa berdampak negatif pada kesehatan mental, termasuk memicu kecemasan," kata dr Reddy.

3 hours ago
3














































