REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketika air hujan yang suci berubah menjadi tercemar, krisis air tak lagi sekadar persoalan ekologi. Ia menjadi cermin rusaknya relasi spiritual dan etika manusia dengan alam, sekaligus pengkhianatan terhadap rahmat Allah yang diturunkan dari langit. Padahal air hujan diturunkan Allah SWT sebagai rahmat dan sarana penyucian.
Dua ayat ini menjelaskan tanda-tanda alam sebagai bukti keberadaan Sang Pencipta. Ayat-ayat ini sekaligus menegaskan kekuasaan Allah SWT yang sempurna dalam menciptakan segala sesuatu dengan ragam bentuk dan sifat yang tampak berlawanan di mata manusia. Salah satunya adalah hujan, yang dengannya Allah membersihkan segala yang kotor, baik secara lahir maupun batin. Selain itu, air hujan menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۚ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًا ۙ
Wa huwal-lażī arsalar-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih(ī), wa anzalnā minas-samā'i mā'an ṭahūrā(n).
Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan dari langit air yang sangat suci. (QS Al-Furqan Ayat 48)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لِّنُحْيِ َۧ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَآ اَنْعَامًا وَّاَنَاسِيَّ كَثِيْرًا
Linuḥyiya bihī baldatam maitaw wa nusqiyahū mimmā khalaqnā an‘āmaw wa anāsiyya kaṡīrā(n).
Agar dengannya (air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus) dan memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak. (QS Al-Furqān Ayat 49)
Dalam Tafsir Ayat-Ayat Ekologi yang diterbitkan Kementerian Agama RI menerangkan, ayat ini tidak hanya menguraikan fenomena alam, tetapi juga mengandung pesan teologis dan etis. Manusia diajak untuk bersyukur, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menyadari bahwa kehidupan sepenuhnya bergantung pada rahmat Allah yang diturunkan melalui hujan. Hujan merupakan bagian dari sistem Ilahi untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi: menghidupkan tanah yang mati, menumbuhkan tanaman, dan memberi minum seluruh makhluk hidup.
Air hujan memiliki sifat suci dan mensucikan (ṭahūr). Ia dapat digunakan untuk mandi dan bersuci, mencuci, diminum, mengolah makanan, menyiram tanaman, serta memberi minum hewan ternak.
Dalam sebuah hadis riwayat Abu Sa‘id al-Khudrī, Rasulullah SAW bersabda, “Sifat air (pada asalnya) adalah suci dan tidak dapat dinajisi oleh apapun.”
Frasa mā’an ṭahūran menggambarkan hubungan yang erat antara Tuhan, manusia, dan alam. Air tidak diciptakan semata sebagai unsur biologis, tetapi juga memiliki nilai sakral dalam sistem rubūbiyyah Allah. Hujan yang turun adalah wujud kasih sayang Allah untuk menghidupkan tanah yang mati serta memberi kehidupan bagi tumbuhan, hewan, dan manusia.
Melalui air, ekosistem dipulihkan, dan manusia diberi amanah untuk menjaga kesuciannya. Karena itu, pencemaran air atau eksploitasi sumber air secara rakus bukan hanya bentuk kerusakan ekologis, tetapi juga pengkhianatan terhadap anugerah ṭahūr yang Allah turunkan. Menjaga air, dengan demikian, bukan sekadar tanggung jawab lingkungan, melainkan juga bentuk ibadah.
Manusia Cemari Air Hujan yang Suci
Ayat ini menegaskan bahwa air hujan yang turun dari langit pada hakikatnya suci. Adapun perubahan sifat air yang dirasakan manusia terjadi akibat kondisi lingkungan di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah hujan asam, yakni air hujan yang terpapar gas sulfur dioksida (SO₂) dan nitrogen oksida (NOₓ) di atmosfer, yang berasal dari berbagai aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil. Gas-gas tersebut bereaksi dengan uap air dan membentuk asam sulfat serta asam nitrat, lalu turun bersama hujan.

5 days ago
12















































