REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Bagi jutaan pekerja di kota-kota besar, alarm pukul lima pagi menandai dimulainya sebuah perjalanan panjang. Berpacu dengan waktu, kemacetan yang menguras emosi, tumpukan deadline yang mencekik, hingga paparan polusi udara yang menjadi 'menu harian', seakan menjadi bagian tak terpisahkan saat memulai aktivitas. Narasi ini mungkin terdengar seperti keseharian di Jakarta, namun ritme kerja 9-to-5 juga terasa di Yogyakarta.
Meski Jogja sering dibilang sebagai kota slow living, realitasnya berbeda dan jauh dari kata santai bagi para pekerja di sepanjang koridor Jalan Sudirman, kawasan Monjali, Ring Road dan lain sebagainya. Tuntutan produktivitas ini sering kali memaksa tubuh bekerja melampaui batas normal, sehingga tak sedikit pekerja yang bergelut dengan kelelahan fisik dan mental sepanjang hari.
"Orang dari luar mengira kami di Jogja kerjanya santai. Kenyataannya, kami tetap kejar-kejaran dengan target, tak jarang juga pulang malam dan terkadang terjebak kemacetan di berbagai ruas jalan," ungkap Teo (26 tahun), seorang pekerja kreatif di Kota Yogyakarta saat diwawancarai Republika, Kamis (22/1/2026).
Ia mengatakan lembur seolah menjadi budaya yang tak terelakkan. Bahkan suka duka tubuhnya yang sering kali memberontak akibat pola kerja yang tidak teratur juga pernah dirasakannya.
"Gampang lelah apalagi kalau cuaca lagi ekstrem," ungkapnya.
Kesadaran akan 'sakit itu mahal' di tengah upah yang terbilang terbatas itu kini mempengaruhi perubahan gaya hidup urban di Jogja termasuk Teo. Selama bertahun-tahun, kopi menjadi pilihan utamanya untuk menjaga fokus dan energi.
Secangkir kopi di pagi hari atau saat sore menjelang pulang kantor sudah menjadi bagian dari rutinitas. Namun, konsumsi kafein berlebihan mulai disadari bisa menimbulkan efek samping, seperti jantung berdebar atau sulit tidur. Dari sinilah, ia mulai mencari alternatif yang dianggap lebih alami dan ramah bagi tubuh.
"Akhirnya aku coba minum herbal, madu juga. Lumayan menjaga stamina sepanjang beraktivitas," ungkapnya.
Rahasia Jaga Stamina
Tak sedikit masyarakat termasuk GenZ yang kini mulai menoleh kembali pada kekayaan alam, yang selama ini hanya dianggap sebagai ramuan tradisional kuno sebagai penopang stamina tubuh. Ini juga diperkuat dengan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 tentang konsumsi herbal di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya atau 59,12 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai sekitar 95,6 persen yang mengakui manfaat jamu bagi kesehatannya. Angka ini juga meningkat terutama pada masa pandemi Covid-19 (tahun 2020) untuk menjaga kesehatan mencapai 79 persen masyarakat yang mengonsumsi herbal.
Ada pergeseran menarik dalam perilaku konsumsi masyarakat tersebut. Perubahan sekaligus kesadaran untuk memperbaiki konsumsi harian ini juga memicu tren back to nature di mana masyarakat masa kini perlahan beralih ke herbal alami yang praktis untuk menjaga benteng pertahanan tubuh.
Brand Manager Zymuno, Sendhi Dhania menyampaikan Madu Herbal Zymuno hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Zymuno bahkan diposisikan sebagai madu imunomodulator yang telah terstandar BPOM dan Halal, menjadikannya pendamping aman bagi pekerja aktif hingga penderita kanker.
"Kami hadir untuk membantu masyarakat menjaga kesehatan di tengah aktivitas padat," ungkap Sendhi.
Sendhi menyebut madu herbal ini juga aman di konsumsi. Komposisinya terdiri dari bahan alami, di antaranya madu hutan, temulawak (Curcuma xanthorrhiza), meniran hijau (Phyllanthus urinaria), daun kelor (Moringa oleifera), dan temugiring. Menurutnya, Zymuno memahami bahwa kandungan aktif alami bekerja secara bertahap di dalam tubuh. Madu Herbal Zymuno ini disebutnya tidak memiliki efek jangka panjang yang merugikan jika dikonsumsi sesuai aturan. Berbeda dengan solusi instan yang kadang-kadang justru memberikan beban berlebih pada fungsi hati dan ginjal.
Dari monitoring internal yang dilakukan oleh PT Etos Kreatif Indonesia (Ethos), terdapat pola waktu yang menjadi standar bagi mayoritas konsumen. Hasilnya menunjukkan bahwa perbaikan stamina biasanya mulai dirasakan dalam rentang 7 hingga 14 hari pemakaian rutin. Sendhi mengatakan rentang waktu ini merupakan periode emas di mana kandungan Meniran, Kelor, dan Temulawak akan berinteraksi secara stabil dengan sistem imun.
"Zymuno merupakan pilihan herbal yang relevan dan praktis," katanya.
"Zymuno berbeda dari madu herbal pada umumnya karena dikombinasikan dengan bahan herbal alami seperti meniran hijau, temu putih, temulawak, dan daun kelor melalui proses produksi terstandar yang telah terdaftar BPOM dan Halal Indonesia," ujarnya.
Dari sisi kesehatan, Apt. Suyamei Lavita menjelaskan menjaga stamina tidak cukup hanya dengan menipu rasa lelah, tetapi perlu membangun daya tahan tubuh dari dalam. Banyak pekerja mengandalkan kafein untuk bertahan dari pagi hingga sore. Namun, menurutnya efek tersebut cenderung bersifat sementara. Salah satu yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh adalah melalui asupan seperti madu dan tanaman herbal yang bekerja langsung pada sistem imun dan metabolisme sel.
"Kafein menciptakan energi semu dengan memblokir sinyal lelah di otak tanpa menambah nutrisi, sehingga tubuh rentan mengalami stres sitemik. Sebaliknya, kombinasi madu dan temulawak membangun daya tahan nyata dengan menyediakan bahan bakar seluler (ATP) serta zat anti-inflamasi untuk memulihkan kerusakan jaringan. Singkatnya, kopi hanya menunda rasalelah, sementara madu dan temulawak memperbaiki kondisi fisik agar lebih kuat bekerja," katanya kepada Republika.
Saat berbincang tentang Zymuno, Ia memaparkan kandungan meniran dalam madu herbal tersebut memiliki peran sebagai imunomodulator yang membantu mengaktifkan sel-sel pertahanan tubuh. Meniran bekerja dengan merangsang sel imun seperti makrofag dan Natural Killer (NK), sekaligus membantu mengurangi stres oksidatif yang muncul akibat kurang tidur dan kelelahan kerja.
Menurutnya, tubuh tidak hanya terasa lebih bertenaga, tetapi juga lebih siap melawan infeksi. Selain stamina, faktor pemulihan tubuh juga turut menjadi perhatian, terutama bagi para pekerja yang setiap hari terpapar polusi udara. Kandungan daun kelor yang ada di dalamnya, disebut kaya antioksidan sehingga juga membantu menetralisir radikal bebas serta mendukung regenerasi sel.
Ia menyebut kandungan mikronutrien ini berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh tetap optimal meski berada di ritme kerja 9-5 atau yang cukup padat.
"Secara farmakologis, kelor mengandung asam amino essensial dan mikronutrien tinggi yang mempercepat regenerasi jaringan tubuh yang rusak sekaligus menekan inflamasi pada saluran pernapasan. Dengan memperbaiki kualitas nutrisi di tingkat seluler, daun kelor memastikan proses pemulihan berjalan lebih cepat dan sistem pertahanan tubuh tetap baik meski terpapar lingkungan yang eksterem," ujarnya.
Tak berhenti di situ, Mei, sapaan akrabnya juga menyoroti sisi keamanan jika seseorang ingin konsumsi madu herbal cair. Ia menyampaikan untuk penggunaan harian, produk ini dinilai relatif aman, terutama karena kandungannya bersifat adaptogenik dan membantu tubuh mengelola stres tanpa efek toksik.
Meski demikian, Mei menekankan pentingnya penggunaan yang bijak dan tidak berlebihan. Ia menyarankan agar adanya jeda konsumsi secara berkala, misalnya setiap beberapa minggu. Ini penting untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan fungsi organ tubuh.
"Konsumsi Zymuno secara harian, umumnya aman karena sifat adaptogenik kandungannya yang membantu tubuh mengelola stres tanpa efek toksik. Namun, karena Meniran bersifat diuretik dan Temulawak memengaruhi empedu, disarankan melakukan jeda konsumsi (cycling) setiap delapan pekan untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan fungsi organ," ucapnya.
"Tetap perhatikan kondisi medis pribadi, terutama jika memiliki riwayat gangguan lambung atau pembekuan darah," ujar Mei.

2 hours ago
3












































