REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan peringatan tentang akibat dari ketergantungan yang berlebihan pada fitur kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Di antaranya adalah, potensi munculnya kemalasan kognitif di tengah masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan pelajar, jika terlalu sering mengandalkan kepraktisan AI dalam mencari informasi atau pengetahuan.
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, M Rofiq Muzakkir mengatakan, fenomena kemalasan berpikir kini semakin menguat seiring dengan kemudahan yang ditawarkan AI. Menurut dia, banyak orang cenderung menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, mulai dari meminta ringkasan bacaan hingga menulis karya ilmiah.
“Apa-apa cukup tanya AI. Apa-apa minta dirangkumkan AI. Dampaknya ini serius,” ujar Rofiq Muzakkir dalam pengajian di gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, baru-baru ini.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu menyoroti maraknya praktik pelatihan penulisan karya ilmiah berbasis AI. Bahkan, ada pula yang difasilitasi oleh pemerintah.
Menurut Rofiq, kondisi tersebut berpotensi menyalahi prinsip dasar pencarian ilmu. Ajaran Islam menekankan, seseorang perlu melalui proses panjang, kesungguhan, dan kesabaran dalam menuntut ilmu.
Ilmu apa pun tidak dapat diraih secara instan. Salah satu syarat utama dalam menuntut ilmu adalah tūluz zamān, yakni proses waktu yang panjang. Karena itu, tegas Rofiq, penggunaan AI tidak boleh mengabaikan tahapan akuisisi ilmu secara bertahap, manual, dan tradisional.
“Ilmu itu dipelajari melalui proses belajar, bukan sekadar di-generate,” katanya.
Rofiq juga mengingatkan peringatan dari seorang ulama klasik, Ibnul Qayyim, yang menyatakan, siapa pun yang melewatkan fondasi dasar ilmu (ushul), maka ia tidak akan sampai pada kebenaran dan mudah terombang-ambing.
Ketergantungan pada AI tanpa fondasi keilmuan berpotensi membingungkan. Sebab, AI cenderung memberikan jawaban afirmatif tanpa kemampuan menilai benar atau salah secara substantif.
“Supaya tidak bingung, seseorang harus punya ushul, punya fondasi ilmu. Fondasi itu didapat dari iktisab dan ta’allum, bukan dari jalan pintas,” tegasnya.
Dalam konteks pendidikan keislaman, Rofiq menegaskan pentingnya menjaga tradisi membaca buku, menghafal Alquran dan hadis, serta belajar langsung kepada ulama. Pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya diharapkan tidak mengorbankan tradisi keilmuan tersebut hanya karena tergiur kemudahan teknologi AI.
Rofiq juga mengingatkan, AI tetap menyimpan bias pengembang dan keterbatasan data. Bahkan, ia menyinggung kasus di Amerika Serikat ketika seseorang disarankan bunuh diri setelah berkonsultasi dengan AI, yang kemudian menjadi kasus besar dan kontroversial.
“Self-diagnosis tanpa verifikasi itu berbahaya. Apa pun yang diberikan AI tetap harus ditabayyunkan,” ujarnya.
“Teknologi harus berjalan seimbang dengan daya kritis, kehidupan sosial, dan kedalaman spiritual. Jangan sampai AI justru membuat kita kehilangan kemampuan berpikir dan bersosialisasi,” tukas dia.

2 hours ago
2














































