UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG

6 hours ago 3

loading...

Di balik rentetan sanksi ekonomi kepada Rusia, Uni Eropa (UE) tertangkap basah menggelontorkan dana raksasa Rp123,1 triliun sepanjang paruh pertama tahun 2026. Foto/Dok

JAKARTA - Di balik narasi kecaman keras dan rentetan sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Rusia, Uni Eropa (UE) tertangkap basah menggelontorkan dana raksasa sebesar 6 miliar euro atau setara Rp123,1 triliun (dengan kurs Rp20.528 per USD) sepanjang paruh pertama tahun 2026.

Ironisnya dana segar yang menjadi bahan bakar perang Rusia ini mengalir akibat rekor pembelian gas alam cair (LNG) dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah dari kilang minyak Yamal di Siberia Utara. Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air mengungkapkan, bahwa Rusia kini menikmati rekor pendapatan LNG tertinggi sejak awal invasi Ukraina 2022 lalu.

Ketakutan Aturan Larangan & Efek Domino Perang AS-Iran

Ada kepanikan besar yang melanda benua biru di balik pembelian ugal-ugalan ini. Uni Eropa awalnya dijadwalkan menerapkan sanksi pemblokiran total kontrak jangka panjang gas Rusia mulai Januari mendatang.

Baca Juga: Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia

Hal ini membuat negara-negara Eropa berlomba-lomba menimbun pasokan sebelum keran resmi disegel. Namun upaya Eropa untuk lepas dari ketergantungan gas Rusia justru hancur berantakan akibat situasi darurat global.

Perang Amerika Serikat (AS) bersama Israel versus Iran menambah beban berat sektor energi buat benua biru. Alasannya efek perang tersebut memaksa Iran memblokir total jalur perdagangan krusial di Selat Hormuz.

Akibatnya pasokan gas dari Qatar -yang menyumbang 7 persen dari total kebutuhan gas Eropa- mendadak putus total. Eropa yang terancam membeku tanpa energi terpaksa memutar haluan kapal-kapal logistik mereka kembali ke pelukan Rusia.

Krisis Musim Dingin Mengintai: Tangki Eropa Baru Terisi Setengah

Situasi saat ini kian kritis mendekati paruh kedua tahun ini. Di tengah ketidakpastian logistik global, cadangan gas di fasilitas penyimpanan bawah tanah Uni Eropa dilaporkan baru terisi 50%.

Baca Juga: Rusia Tebar Diskon Gas ke China Sampai 2029, Lebih Murah dari Eropa

Padahal dalam kondisi normal di bulan-bulan seperti ini, tangki penampungan wajib terisi minimal dua pertiga (sekitar 66%) agar masyarakat tidak membeku saat musim dingin tiba.

Read Entire Article
Politics | | | |