UIN Datokarama Palu: Memahat Keikhlasan di Balik Capaian Akreditasi Unggul

2 weeks ago 21

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Pernahkah kita merenung, di balik megahnya gedung universitas dan deretan prestasi yang mentereng, apa sebenarnya bahan bakar utama yang membuat sebuah pengabdian tetap bertahan melampaui zaman?

Di tengah keriuhan perayaan dan rasa syukur atas pencapaian akademik, Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Lukman Thahir, melontarkan sebuah pertanyaan filosofis yang menghentak kesadaran: mampukah kita tetap setia pada jalan keikhlasan saat keinginan tak sejalan dengan kenyataan? Mari kita selami bagaimana sebuah kegagalan justru menjadi guru terbaik dalam menenun integritas di kawah candradimuka pendidikan Islam.

Rektor Prof. Lukman Thahir mengajak seluruh sivitas akademika untuk mendalami pesan refleksi tersebut pada peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama (Kemenag). Ajakan ini sejalan dengan moto utama Kementerian Agama, yakni "Ikhlas Beramal". Moto ini bukan sekadar slogan penghias atribut organisasi, melainkan sebuah komitmen spiritual bahwa setiap pengabdian yang dilakukan oleh insan Kemenag harus didasari oleh niat yang tulus semata-mata mengharap rida Allah SWT, tanpa dicampuri oleh pamrih duniawi atau kepentingan pribadi yang sempit.

Ikhlas secara bahasa berarti bersih atau murni. Dalam konteks pekerjaan, ikhlas beramal bermakna melakukan setiap tugas pelayanan dengan profesionalisme tertinggi yang dibungkus dengan ketulusan hati. Pegawai Kementerian Agama wajib memegang teguh prinsip ini karena mereka membawa citra agama dalam pelayanan publik. Dengan semangat ikhlas beramal, seorang pegawai tidak akan mudah mengeluh saat menghadapi tantangan, tidak akan korup saat ada peluang, dan tetap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat meskipun berada dalam keterbatasan.

"Sebagai insan akademik di bawah naungan Kemenag, mari merenungi esensi dari perjalanan pengabdian selama ini," ujar Lukman Thahir di Palu, Sabtu (3/1/2026). Ia mengibaratkan perjalanan institusi dan individu sebagai sebuah buku yang tidak lagi kosong. Dalam buku tersebut, lembar kesuksesan dan kegagalan memiliki porsi yang sama pentingnya dalam membentuk kedewasaan manusia.

Standar karakter pegawai yang diharapkan oleh Kementerian Agama adalah pribadi yang memiliki integritas tinggi, bersikap moderat dalam beragama, serta mampu menjadi teladan dalam harmoni sosial. Pegawai Kemenag dituntut untuk responsif terhadap kebutuhan umat, memiliki etos kerja yang kuat, serta senantiasa mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam setiap langkah birokrasinya. Karakter inilah yang menjadi fondasi dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan melayani.

Setiap capaian dan target yang berhasil diraih, menurut Prof. Lukman, adalah buah dari ikhtiar, kebersamaan, dan ketekunan yang tidak sia-sia. Namun, ia menekankan bahwa lembar kegagalan, seperti rencana yang macet atau doa yang belum terjawab, justru sering kali memberikan pelajaran yang lebih dalam dan bermakna.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |