REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Selasa (13/1/2026). Tekanan datang dari saham perbankan besar serta meningkatnya ketidakpastian pasar menyusul sejumlah rencana kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Indeks S&P 500 turun 0,19 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,8 persen, dan Nasdaq Composite turun 0,1 persen. Saham JPMorgan terkoreksi 4,2 persen meski kinerja keuangan kuartal IV melampaui ekspektasi.
Tekanan juga terjadi pada saham sektor keuangan lainnya. Goldman Sachs turun lebih dari 1 persen, sementara Mastercard dan Visa masing-masing melemah 3,8 persen dan 4,5 persen. Pasar merespons wacana pembatasan dividen dan buyback saham, serta kebijakan lain yang dinilai berpotensi menekan kinerja korporasi.
Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan sempat menahan pelemahan pasar. Inflasi inti Desember tercatat naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan, di bawah ekspektasi pasar.
Sementara itu, bursa Asia bergerak menguat. Indeks Nikkei 225 melonjak 3,10 persen dan mencetak rekor tertinggi, didorong sentimen positif pada saham kecerdasan buatan serta pelemahan yen.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,72 persen dengan net buy investor asing sekitar Rp 1,45 triliun. Saham yang paling banyak dibeli investor asing antara lain INCO, ASII, MBMA, BBNI, dan ANTM.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan pergerakan IHSG masih memiliki ruang penguatan dalam jangka pendek. “IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sepanjang bertahan di support 8.900,” ujar Fanny dalam laporan risetnya, Rabu (14/1/2026).
Secara teknikal, IHSG berada pada area support 8.860–8.900 dengan resistansi di kisaran 8.970–9.000. Aliran dana asing menjadi penopang utama pergerakan indeks di tengah dinamika pasar global yang masih fluktuatif.

3 hours ago
8














































