REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof. Dr. Muhammad Hadi, S.K.M., M.Kep., menyampaikan orasi ilmiah dalam Pengukuhan Guru Besar yang berlangsung di Auditorium K.H. Azhar Basyir, M.A., Gedung Cendekia UMJ, Selasa (13/01/2026).
Dalam orasi yang berjudul Integrasi Kepemimpinan, Kolaborasi, dan Spiritualitas dalam Manajemen Mutu Keperawatan sebagai Fondasi Transformasi Menuju Pelayanan Kesehatan Rahmatan lil ‘Alamin, Hadi menegaskan tantangan utama pelayanan kesehatan saat ini bukan semata pada aspek teknis, melainkan pada nilai yang menopang kepemimpinan dan kolaborasi.
“Kepemimpinan tanpa nilai akan melahirkan kekuasaan yang kering, kolaborasi tanpa etika akan melahirkan kepentingan yang rapuh, dan spiritualitas tanpa manajemen hanya akan berhenti pada romantisme moral,” ujarnya.
Ia merefleksikan perjalanan akademiknya yang konsisten mengangkat empat tema besar, yakni kepemimpinan keperawatan, mutu dan keselamatan pasien, kolaborasi interprofesional, serta kompetensi dan spiritualitas perawat. Hadi menilai kegagalan mutu pelayanan kesehatan kerap bukan disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan, tetapi rapuhnya kepemimpinan dan kolaborasi dalam sistem layanan.
“Perawat adalah tulang punggung sistem kesehatan, menyumbang lebih dari 50 persen tenaga kesehatan dunia dan memiliki intensitas kontak tertinggi dengan pasien, sehingga kepemimpinan keperawatan menjadi faktor strategis dalam peningkatan mutu layanan,” kata Hadi.
Dalam tinjauan teoritik, Hadi menekankan manajemen mutu keperawatan tidak cukup hanya bertumpu pada standar, prosedur, dan akreditasi. Menurutnya, tanpa kepemimpinan yang bermakna dan budaya organisasi berbasis nilai, peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien sulit tercapai.
“Akreditasi dan indikator kinerja tidak otomatis meningkatkan pengalaman pasien apabila tidak diiringi kepemimpinan yang adaptif, relasional, dan berbasis nilai,” ujarnya.
Hadi memaparkan hasil riset empiris yang melibatkan 384 responden di lima rumah sakit pendidikan nasional dan lima institusi pendidikan tinggi, termasuk UMJ. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan kolaboratif berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kolaborasi interprofesional, mutu pelayanan, dan keselamatan pasien.
“Nilai-nilai kemitraan kolegial, role model kepemimpinan, serta kejelasan peran perawat terbukti meningkatkan kompetensi kepemimpinan peserta didik keperawatan,” kata Hadi.
Melalui orasi ini, Hadi menawarkan kontribusi keilmuan berupa kerangka konseptual Integratif Kepemimpinan, Kolaborasi, dan Spiritualitas (IKKS) dalam manajemen mutu keperawatan, sekaligus kontribusi praktis bagi profesi, pendidikan keperawatan, dan Amal Usaha Muhammadiyah bidang kesehatan. Ia menekankan pentingnya menjadikan konsep Rahmatan lil ‘Alamin sebagai horizon baru mutu pelayanan kesehatan.
“Mutu tidak hanya diukur dari luaran klinis, tetapi juga dari keberpihakan pada nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan keadilan,” ujarnya.
Menutup orasi ilmiahnya, Hadi menyampaikan keyakinan masa depan keperawatan Indonesia bergantung pada kemampuan mengintegrasikan ilmu, nilai, dan pengabdian secara utuh. “Kepemimpinan yang berintegritas, kolaborasi yang tulus, dan spiritualitas yang hidup akan melahirkan pelayanan keperawatan yang profesional dan mencerahkan,” tegasnya.
Ia berharap keperawatan Indonesia terus berkontribusi sebagai rahmat bagi seluruh alam, sejalan dengan visi Islam dan cita-cita kemanusiaan universal.

3 hours ago
5













































