loading...
Penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro merupakan operasi CIA yang sukses. Foto/X/Fox News
CARACAS - Selama dua abad terakhir, Amerika Serikat berulang kali melakukan operasi militer di Amerika Tengah dan Selatan serta Karibia. Dimulai pada akhir tahun 1800-an hingga awal abad ke-20, AS melakukan Perang Pisang, serangkaian intervensi militer di Amerika Tengah, untuk melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan AS di wilayah tersebut.
Pada tahun 1934, di bawah Presiden Franklin D. Roosevelt, AS memperkenalkan "Kebijakan Tetangga Baik", berjanji untuk tidak menyerang atau menduduki negara-negara Amerika Latin atau mencampuri urusan internal mereka. Namun, selama Perang Dingin, AS membiayai beberapa operasi yang bertujuan untuk menggulingkan para pemimpin sayap kiri terpilih di wilayah tersebut.
Melansir Al Jazeera, banyak dari operasi ini telah dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Pusat (CIA), yang didirikan pada tahun 1947.
Saat Washington membangun kehadiran militer skala besar di dekat pantai Venezuela dan terus melakukan serangan udara terhadap kapal-kapal Venezuela yang diklaim menyelundupkan narkoba di Karibia dan Pasifik timur, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia tidak mengesampingkan operasi darat di dalam negeri itu sendiri. Banyak pengamat percaya bahwa tuduhan Trump bahwa Venezuela bertanggung jawab atas perdagangan narkoba adalah kedok untuk tujuan sebenarnya yaitu perubahan rezim di sana.
10 Operasi CIA Penggulingan Pemerintahan di Amerika Latin, Ada Juga yang Gagal
1. Guetamala (1950-an)
Melansir Al Jazeera, pada tahun 1954, Presiden Guatemala terpilih Jacobo Arbenz Guzman digulingkan oleh kelompok-kelompok pejuang lokal yang didukung oleh CIA di bawah Presiden AS Dwight Eisenhower.
Arbenz telah berupaya menasionalisasi sebuah perusahaan, yang memicu kekhawatiran di AS tentang kebijakan sosialis yang lebih banyak di Guatemala.
Di bawah Operasi PBSuccess CIA, badan tersebut melatih para pejuang yang dipimpin oleh perwira militer Carlos Castillo Armas, yang mengambil alih kekuasaan setelah kudeta. Perang saudara berkecamuk di Guatemala dari tahun 1960 hingga 1996 antara pemerintah dan militer Guatemala di satu sisi, dan kelompok pemberontak sayap kiri di sisi lain.
Baca Juga: Trump: Perusahaan Minyak AS akan Terima Jaminan Keamanan Saat Beroperasi di Venezuela
2. Kuba (1960-an)
Pada tahun 1959, pemimpin komunis Kuba Fidel Castro berkuasa setelah menggulingkan diktator Fulgencio Batista.
Melansir Al Jazeera, di bawah Eisenhower, CIA merancang rencana untuk melatih para pengungsi Kuba untuk menyerbu negara itu dan menggulingkan Castro. Presiden AS John F. Kennedy, seorang Demokrat yang memenangkan pemilihan tahun 1960, diberi pengarahan tentang rencana tersebut selama pelantikannya.
Castro mengetahui tentang kamp pelatihan tersebut melalui intelijen Kuba. Pada tahun 1961, Kennedy menyetujui Invasi Teluk Babi, sebuah rencana bagi para pengungsi Kuba untuk menggulingkan Castro. Namun, invasi tersebut gagal ketika militer Kuba mengalahkan mereka.
3. Brasil (1960-an)
Pada tahun 1961, Joao Goulart menjabat sebagai presiden Brasil, dengan mandat untuk mengejar reformasi sosial dan ekonomi. Ia mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara sosialis seperti Kuba dan menasionalisasi anak perusahaan International Telephone and Telegraph (ITT) milik AS.
Sebagai tanggapan, CIA mendanai politisi pro-AS dan mendukung kelompok anti-komunis. Hal ini melemahkan kepemimpinan Goulart, yang berpuncak pada kudeta militer pada tahun 1964, yang mendirikan kediktatoran pro-AS yang berlangsung hingga tahun 1985.
4. Ekuador (1960-an)
Setelah melewati 27 presiden antara tahun 1925 dan 1947, Ekuador menyaksikan periode stabilitas yang langka pada tahun 1950-an.














































