Abu Zaid Al-Balkhi, Strategi, dan Pendekatan Mengatasi Depresi

2 hours ago 2

Oleh : Jarman Arroisi, Peneliti Psikologi Islam dan Pengelola Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Depresi sering kali hadir tanpa suara, tetapi dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelma sebagai kelelahan batin, hilangnya semangat hidup, rasa hampa yang berkepanjangan, dan perasaan tidak berharga. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, depresi menjadi salah satu persoalan kesehatan mental paling serius. Ironisnya, pembahasan depresi kerap terjebak antara pendekatan medis yang kering makna dan nasihat moral yang menyederhanakan persoalan.

Namun jauh sebelum psikologi modern berkembang, seorang ilmuwan Muslim abad ke-9 telah merumuskan pemahaman yang sangat matang tentang kesehatan mental. Ia adalah Abū Zayd al-Balkhī (w. 934 M), penulis karya monumental Maṣālih al-Abdān wa al-Anfus (Kemaslahatan Tubuh dan Jiwa). Dalam karyanya, al-Balkhī tidak hanya mengakui depresi sebagai penyakit jiwa yang nyata, tetapi juga menyusun strategi dan pola sistematis untuk mengurai dan mengatasinya secara menyeluruh.

Jiwa Bisa Sakit: Fondasi Psikologi al-Balkhī

Langkah awal al-Balkhī yang sangat progresif adalah pengakuannya bahwa jiwa dapat mengalami sakit sebagaimana tubuh. Ia menolak anggapan bahwa gangguan batin hanyalah akibat lemahnya iman atau kurangnya keteguhan moral. Dalam pandangannya, penyakit jiwa memiliki mekanisme, sebab, dan dampak yang nyata, sehingga memerlukan penanganan yang serius dan bijaksana. Al-Balkhī menempatkan kesehatan jiwa (sihhah al-nafs) sejajar dengan kesehatan tubuh (sihhah al-badan). Keduanya saling memengaruhi dan tidak bisa dipisahkan. Ketika tubuh sakit, jiwa dapat melemah. Sebaliknya, ketika jiwa terganggu, tubuh pun ikut terdampak.

Klasifikasi Gangguan Jiwa dalam Pandangan al-Balkhī

Salah satu aspek penting yang sering luput dari pembacaan populer adalah bahwa al-Balkhī tidak hanya membahas depresi. Ia menyusun klasifikasi gangguan jiwa secara sistematis. Di antaranya adalah: huzn (kesedihan/depresi), Kesedihan mendalam yang dapat bersifat sementara atau menetap. Khawf dan faza‘ (ketakutan dan kecemasan berlebihan). Rasa takut yang tidak proporsional dan terus-menerus, hingga mengganggu ketenangan jiwa. Ghadab (kemarahan patologis), Ledakan emosi yang tidak terkendali dan merusak relasi sosial. Waswās (pikiran obsesif dan intrusif), Pikiran yang berulang, mengganggu, dan sulit dikendalikan.

Klasifikasi ini menunjukkan bahwa al-Balkhī memahami gangguan jiwa sebagai spektrum kondisi yang saling berkaitan. Depresi, dalam banyak kasus, tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan kecemasan, kemarahan, atau waswas yang tidak terkelola.

Depresi dalam Dua Wajah: Huzn Aridi dan Huzn Lazim

Ketika membahas depresi, al-Balkhī menggunakan istilah huzn dan membaginya menjadi dua bentuk utama. Pertama, huzn ‘āridi, yaitu kesedihan yang muncul akibat sebab yang jelas: kehilangan orang tercinta, kegagalan, atau musibah hidup. Kesedihan ini bersifat manusiawi dan, dalam kadar tertentu, justru menandakan kepekaan emosional.

Kedua, huzn lāzim, yaitu kesedihan yang menetap, muncul tanpa sebab yang jelas, dan terus membebani jiwa. Kesedihan jenis ini dapat melumpuhkan semangat hidup dan mengganggu fungsi sosial seseorang. Inilah bentuk depresi yang membutuhkan penanganan serius. Pembedaan ini penting agar kesedihan tidak disikapi secara seragam. Tidak semua kesedihan perlu “disembuhkan”, tetapi ada kesedihan yang memang perlu ditangani secara khusus.

Perbedaan Penyebab Depresi: Psikis dan Fisiologis

Keunggulan lain pemikiran al-Balkhī adalah kemampuannya membedakan penyebab depresi. Ia menegaskan bahwa depresi tidak selalu bersumber dari faktor psikologis semata. Ada dua sumber utama yang perlu dipahami. Pertama, depresi yang bersumber dari faktor psikis, seperti pikiran negatif yang berlebihan, trauma emosional, kecemasan terhadap masa depan, atau tekanan hidup yang tidak terkelola.

Kedua, depresi yang bersumber dari faktor fisiologis, seperti kelelahan fisik, gangguan kesehatan, pola makan yang buruk, atau ketidakseimbangan tubuh. Dalam kasus ini, pengobatan fisik menjadi bagian penting dari terapi jiwa. Pembedaan ini menunjukkan bahwa al-Balkhī tidak menyederhanakan depresi menjadi persoalan spiritual semata. Ia justru menekankan perlunya diagnosis yang tepat sebelum menentukan cara penanganan.

Strategi Kognitif: Menata Pikiran yang Tidak Seimbang

Dalam mengurai depresi psikis, al-Balkhī menekankan dialog rasional dengan diri sendiri. Pikiran negatif tidak dibiarkan menguasai jiwa, tetapi diuji secara tenang dan objektif. Ketakutan dan kesedihan perlu ditimbang ulang: apakah benar semuanya seburuk yang dibayangkan? Al-Balkhī menganjurkan teknik mu‘ākasah, yaitu menghadirkan pikiran penyeimbang untuk melawan pikiran destruktif. Strategi ini bertujuan mengembalikan keseimbangan jiwa, bukan menekan emosi secara paksa.

Strategi Perilaku: Menghidupkan Jiwa Melalui Aktivitas

Selain pikiran, perilaku juga memegang peran penting. Al-Balkhī menekankan pentingnya keteraturan hidup: tidur cukup, makan seimbang, bergerak secara fisik, dan menjaga rutinitas harian. Aktivitas sederhana dapat menjadi pintu masuk bagi pemulihan jiwa. Baginya, menunggu perasaan membaik sebelum bertindak justru memperpanjang penderitaan. Tindakan yang terarah sering kali menjadi pemicu pulihnya perasaan.

Strategi Sosial: Mengatasi Depresi dengan Kebersamaan

Al-Balkhī menilai bahwa kesendirian yang berkepanjangan dapat memperparah depresi. Karena itu, ia menekankan pentingnya pergaulan yang sehat. Kehadiran orang lain, percakapan yang bermakna, dan dukungan sosial dapat menjadi penopang kuat bagi jiwa yang rapuh. Namun ia juga mengingatkan bahwa lingkungan sosial yang buruk dapat memperparah kondisi batin. Oleh karena itu, kualitas relasi menjadi kunci utama.

Read Entire Article
Politics | | | |