
Oleh : Prof Basuki Supartono; Guru Besar Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID,Alhamdulillah, Sabtu siang 18 Januari 2026, kami tiba di Posko Medis Aceh Tamiang. Ketika memasuki wilayah bencana; terlihat jalanan kecoklatan, kering, dan berdebu. Di kanan kiri jalan banyak onggokan sisa banjir. Jejak banjir bandang belum benar pergi.Sudah lebih dari 50 hari sejak banjir besar menggerus Aceh Tamiang.
Begitu kami masuk ke posko medis BSMI, dua anak kaka beradik demam. Belum lama berselang, datang seorang tentara. Ia meminta dokter untuk ikut ke markas karena komandannya sakit. Kondisi posko sukit karena tenaga medis terbatas dan sibuk mengurus klinik. Sebelumnya komandan tersebut sudah diberi obat karena sakit maag.
Tidak lama kemudian, datang seorang ibu hamil yang mengalami kecelakaan. Ibu tersebut jatuh terpleset dari kereta karena jalan licin dan berdebu. Ini bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi akibat langsung dari kondisi lingkungan pascabanjir yang belum pulih.
Pasien ini kemudian ditangani dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Semua terjadi tanpa jeda. Anak demam, tentara meminta bantuan untuk komandannya yang sakit, ibu hamil korban kecelakaan. Inilah realitas pelayanan kesehatan di daerah bencana di masa tanggap darurat. Bencana memang sudah lewat, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Lebih dari 50 hari pascabanjir, jalan licin, debu beterbangan, sisa lumpur menumpuk. Gangguan kesehatan dan kecelakaan meningkat. Posko medis menjadi tempat warga berharap bukan hanya berobat, tetapi untuk merasa tidak ditinggalkan.
Kami hadir bukan untuk menjadi pahlawan tetapi datang sebagai anak yang datang untuk merawat ibu pertiwi yang sedang sakit. Kami hadir karena percaya bahwa kemanusiaan tidak berhenti ketika masa tanggap darurat selesai.
Selama masih ada anak yang sakit, ibu hamil yang terjatuh, tentara yang membutuhkan pertolongan, dan masyarakat yang datang dengan harapan, maka pelayanan kesehatan harus tetap ada. Aceh Tamiang mengajarkan kami hal sederhana bahwa bencana tidak selesai ketika air surut.
Bencana selesai ketika kehidupan masyarakat kembali aman, sehat dan bermartabat. Oleh karenanya kehadiran kita bukanlah pilihan tetapi kontribusi yang terbaik untuk kemanusiaan. Semoga Aceh Tamiang terus bangkit menjadi tameng kehidupan warganya. Tameng dari ketamakan para perusak alam dan lingkungan yang menyengsarakan warga. Semoga bencana ini tidak menjadi kopi pahit selamanya.

2 hours ago
3















































