Amarah yang Liar: Sisi Misterius Emily Bront

4 hours ago 3

Image Donny Syofyan

Sastra | 2026-07-07 20:33:07

Donny Syofyan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Sebuah biografi baru yang ditulis dengan begitu puitis kembali mengusik rasa penasaran publik. Buku ini menyingkap tabir kehidupan Emily Brontë, sosok paling misterius dan menutup diri di antara Brontë bersaudara.

Ia adalah manusia yang eksentrik, introver, dan sangat tertutup hingga di ambang batas membisu. Sahabatnya, Ellen Nussey, mengenang Emily sebagai sosok yang "memiliki dinding pertahanan yang mustahil ditembus." Kakaknya sendiri, Charlotte, menulis: "Kecuali untuk pergi ke gereja atau menyusuri perbukitan, ia hampir tidak pernah melangkah keluar dari pintu rumah."

Satu-satunya novel yang pernah ia lahirkan, "Wuthering Heights"—sebuah mahakarya Gotik yang kelam—awalnya hanya memanen kebingungan dari para kritikus. Namun waktu membuktikan bahwa itu adalah buah dari kejeniusan mutlak. Kini, Emily juga diakui sebagai penyair dengan kekuatan magis yang langka. Kombinasi antara kematian dininya, karyanya yang tak biasa, dan minimnya catatan sejarah, melahirkan mitos publik tentang dirinya: seorang seniman liar yang gemar berlari bebas di padang rumput Yorkshire, layaknya Kate Bush di era Victoria.

Namun, dalam biografi terbarunya yang memikat, This Dark Night (2026) akademisi Deborah Lutz meluruskan mitos tersebut. Realitasnya tidak sesederhana itu. Emily memang pribadi pelik yang menyimpan "amarah yang liar," tetapi di balik sifat penyendirinya, ia adalah seorang pembaca yang lahap, berwawasan luas, bahkan memiliki sudut pandang yang kosmopolitan.

Karena Emily meninggalkan sangat sedikit jejak sejarah, sebagian besar biografi ini bergerak di wilayah spekulasi yang cerdas. Lewat berbagai dokumen kontemporer, Lutz berhasil menghidupkan kembali atmosfer dunia Emily: fenomena komet dan gelombang panas yang pasti ia saksikan; berita bunuh diri warga lokal yang niscaya ia baca; hingga penginapan yang sangat mungkin pernah ia singgahi. Tidak ada detail yang luput dari perhatian Lutz, mulai dari perkiraan cara menjaga kebersihan feminin pada masa itu, hingga kemungkinan interaksi Emily dengan praktisi mesmerisme (hipnotis kuno).

Lutz merajut pendekatan yang rumit ini dengan sangat anggun. Ia tidak mengunci diri pada satu teori mutlak. Emily mungkin saja sering bertengkar dengan Charlotte; ia mungkin pernah mengalami patah hati yang getir karena cinta yang terlarang; atau ia mungkin merasakan ketertarikan sesama jenis. Lutz dengan bijak mengingatkan pembaca: kita tidak akan pernah tahu kebenaran pastinya.

Lahir pada tahun 1818, Emily merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Tragedi demi tragedi menempanya sejak kecil. Ibunya wafat saat ia baru berusia tiga tahun. Empat tahun berselang, dua kakak tertuanya, Maria dan Elizabeth, menyusul sang ibu di usia yang masih sangat belia, 11 dan 10 tahun. Akhirnya, Charlotte, Emily, Anne, dan saudara laki-laki mereka, Branwell, menghabiskan sisa hidup mereka di pastori Haworth bersama ayah mereka, seorang bibi, dan seorang pelayan.

Kisah tentang Brontë bersaudara adalah kisah yang tak bisa dipisahkan. Mereka bekerja, bermimpi, dan tidur di kamar yang sama. Karya masa muda (juvenilia) mereka kini menjadi legenda—mulai dari fiksi pembangunan dunia (worldbuilding) yang luar biasa, catatan harian domestik yang mendahului zamannya, hingga untaian puisi. Uniknya, karya-karya awal ini ditulis dalam buku dan majalah mini yang sangat kecil, sampai-sampai butuh kaca pembesar untuk bisa membacanya.

Meski tidak banyak mengecap pendidikan formal, sang ayah—seorang pendeta berpikiran maju—mendorong anak-anaknya untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya. Emily mendalami bahasa Latin, geometri, dan selalu memperbarui pengetahuannya tentang penemuan ilmiah terbaru.

Jiwa Emily menyatu dengan alam. Sketsa-sketsa indahnya yang masih tersisa, begitu pula bait-bait puisinya, merekam betapa pekanya ia terhadap langit malam, arah angin, dan gerak-gerik burung liar. Tanah kelahirannya adalah daerah yang kental dengan mitologi dan tempat-tempat bernama mistis seperti Scar Hill dan Deep Arse Delf. Cuaca ekstrem Yorkshire menempa karakternya: banjir bandang yang menghanyutkan ternak, angin puyuh yang merusak rumah, hingga badai salju yang mengurung mereka di dalam rumah selama berminggu-minggu.

Namun, Emily bukanlah gadis desa yang kuper. Keluarga Brontë selalu memantau isu-isu global dan menganggap diri mereka sebagai "politikus yang radikal." Mereka melahap karya penyair Romantik—terutama Byron—fiksi Gotik, novel-novel Prancis yang kontroversial, karya Dickens, tulisan feminis, hingga pemikiran Ruskin dan Emerson. Hidup di wilayah yang dikepung oleh pabrik dan cerobong asap, keluarga Brontë menyaksikan langsung bagaimana industrialisasi merenggut kemanusiaan.

Dunia mereka juga tidak sebatas Haworth. Emily dan Charlotte pernah menghabiskan waktu hampir setahun di Brussels. Di sana, mereka mencecap dunia musik, seni, serta budaya Eropa, dan berhasil menguasai bahasa Prancis dengan fasih.

Setelah sempat mencoba peruntungan yang tidak bahagia sebagai guru privat (governesses), Charlotte dan Anne kembali ke rumah. Di sinilah mereka bertiga mulai menulis dengan serius—saling mengkritik, mengedit, dan mengasah karya satu sama lain. Pada tahun 1848, mereka menerbitkan kumpulan puisi bersama dengan biaya sendiri. Demi menghindari bias gender pada masa itu, mereka menggunakan nama samaran androgini: Currer, Ellis, dan Acton Bell. Buku itu mendapat ulasan bagus, tetapi secara tragis hanya terjual dua eksemplar.

Titik balik terjadi ketika Charlotte merilis "Jane Eyre" yang langsung meledak menjadi sensasi global. Kesuksesan ini membuka jalan bagi Emily dan Anne untuk menerbitkan novel mereka sendiri: "Wuthering Heights" dan "Agnes Grey." (Dalam bukunya, Lutz dengan jenaka melacak inspirasi Emily: mulai dari rumah kuno berhantu tanpa kepala di dekat rumah mereka, penyanyi jalanan bernama Earnshaw, hingga legenda Jack Sharp—pria pendendam yang mirip dengan karakter Heathcliff).

Sayangnya, para kritikus awal menghujat "Wuthering Heights" sebagai karya yang "kasar, aneh, dan menjijikkan"—meski ada satu kritikus yang memuji "keagungannya yang liar." Emily tidak peduli; ia langsung mulai menulis novel keduanya.

Namun maut bergerak lebih cepat. Pada Oktober 1848, Branwell meninggal mendadak. Emily menyusul dua bulan kemudian akibat batuk parah yang menggerogoti tubuhnya. Lima bulan setelah itu, Anne juga wafat karena penyakit yang sama (TBC).

Kehilangan yang begitu beruntun dan masif ini tampaknya menjadi bahan bakar bagi Charlotte untuk memulihkan nama baik saudari-saudarinya. Ia mengungkap identitas asli mereka dan mulai menyunting ulang "Wuthering Heights". Meski Charlotte pernah memuji puisi Emily sebagai karya yang "padat, tajam, kuat, dan jujur," ia tetap menyunting puisi-puisi itu agar lebih bisa diterima publik.

Barulah setelah kematiannya, reputasi sastra Emily meroket ke langit. Penyair besar Emily Dickinson bahkan meminta agar puisi karya "Ellis Bell" yang berjudul "No Coward Soul Is Mine" dibacakan di pemakamannya, sementara novelis George Eliot mengaku sangat jatuh cinta pada puisi "Remembrance".

Lutz mengupas kehidupan Emily yang singkat dan terkesan sepi ini dengan penuh empati, keindahan bahasa, sekaligus humor yang segar. ("Di sela-sela halaman terjemahan Horace, Emily menggambar sketsa sadomasokistik dan pembunuhan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan teks," tulis Lutz dengan nada sarkas yang menggelitik). Ketertarikan Lutz pada relik masa kecil Emily—seperti kain sulaman dan meja tulis kecilnya dari kayu mawar—membuat biografi ini terasa begitu intim.

Emily Brontë adalah seorang seniman yang mahir menciptakan dunia besar dari hal-hal kecil. Seperti burung murai, ia mengumpulkan rekam pengalaman dan pengetahuan dari mana saja yang ia temui, lalu merajutnya menjadi mahakarya. Pada akhirnya, pembaca akan mengamini kalimat ikonis dari Ellen Nussey:

"Ia, dalam arti yang paling mutlak, adalah hukum bagi dirinya sendiri—dan seorang pahlawan wanita yang setia menjaga hukumnya."

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |