REPUBLIKA.CO.ID, BATAM — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan sejumlah negara datang ke Indonesia untuk mempelajari tata kelola beras nasional. Ini setelah Indonesia tercatat mencapai swasembada komoditas tersebut.
Negara-negara itu berasal dari berbagai kawasan, termasuk negara maju yang sebelumnya tidak pernah menjadikan Indonesia sebagai referensi kebijakan pangan. Jepang, Kanada, Chile, Belarusia, Australia, hingga Rusia tercatat datang langsung untuk mempelajari sistem produksi dan pengelolaan beras nasional.
“Yang menarik adalah negara maju pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia. Menteri pertaniannya dari Jepang, datang dari Chile, Kanada, Belarusia. Ini negara-negara yang tidak pernah datang ke Indonesia,” kata Amran saat memberikan arahan pada Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Batam, Kepulauan Riau, dikutip Rabu (21/1/2026).
Ia lalu menyinggung pengakuan di panggung internasional. Food and Agriculture Organization (FAO) tercatat dua kali memberikan apresiasi dalam dua tahun terakhir atas keberhasilan Indonesia menjaga produksi dan ketahanan beras nasional.
Berdasarkan laporan Food Outlook June 2025 yang dipublikasikan FAO, Indonesia menempati posisi dua besar global dalam peningkatan produksi beras. Dalam periode dua tahun terakhir, produksi beras Indonesia meningkat 4,5 persen, berada tepat di bawah Brasil yang mencatat kenaikan 14,7 persen.
“Juga ada Australia, Rusia. Datang dengan pertanyaan apa yang dilakukan Indonesia sehingga bisa melompat menjadi nomor dua dunia,” ujar Amran.
Capaian tersebut berdampak langsung pada dinamika pasar global. Penghentian impor beras oleh Indonesia mendorong penurunan harga beras dunia dari sekitar 660 dolar AS per ton menjadi 368 dolar AS per ton, atau terkoreksi sekitar 44 persen.
Amran turut mengapresiasi peran kepala daerah dalam menjaga konsistensi produksi dan distribusi pangan di wilayah masing-masing. Peran aktif pemerintah kabupaten dinilai menjadi faktor kunci keberhasilan swasembada beras nasional.
“Para bupati ini mendapat amal jariyah. Karena bapak, harga pangan dunia dari 660 dolar AS turun jadi 368 dolar AS per ton. Turun 44 persen. Itulah buah tangan bupati se-Indonesia,” ujar tokoh yang juga bertugas sebagai Kepala Badan Pangan Nasional itu.
Pada 2025, produksi beras nasional tercatat mencapai 34,71 juta ton. Jumlah tersebut mampu memenuhi 111,2 persen kebutuhan konsumsi beras nasional yang berada di level 31,19 juta ton per tahun.
Produksi beras nasional juga berada pada level tertinggi sepanjang sejarah, disertai stok beras terbesar di Perum Bulog sejak lembaga tersebut berdiri pada 1969. Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang tidak lagi bergantung pada impor beras.

2 hours ago
3















































