REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ryan Hasri, Praktisi komunikasi yang sedang menempuh Magister di program International Peace and Development Studies UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Rupiah tembus Rp18.100an per dolar. Rekor terendah sepanjang sejarah. PHK melonjak 84 persen dalam empat bulan pertama 2026. Pengangguran anak muda menyentuh 16-17 persen. Fitch dan Moody's merevisi outlook Indonesia ke negatif. Tapi di layar televisi kita, promosi gegap gempita Perayaan World Cup 2026 mulai tersiar.
Dua ribu tahun yang lalu, penyair Romawi Juvenal menulis sebuah kalimat yang tidak pernah usang: panem et circenses — roti dan sirkus. Maknanya sederhana tapi berbisa: selama rakyat kenyang dan terhibur, mereka tidak akan bertanya terlalu banyak. Penguasa Romawi tahu betul bahwa Colosseum yang penuh sesak jauh lebih efektif meredam kegelisahan publik daripada seribu dekrit.
Hari ini, Colosseum itu bernama siaran bola. Dan sirkus terbesar musim ini adalah FIFA World Cup 2026. Kita perlu berbicara jujur tentang ini. Bukan untuk melarang siapa pun menikmati pertandingan, bukan untuk menuduh pencinta bola sebagai orang yang tidak peduli nasib bangsa. Tapi untuk bertanya dengan serius: di tengah krisis yang sedang berlangsung, euforia World Cup ini melayani siapa?
Angka yang Tidak Masuk Layar Siaran
Mari mulai dari data yang jarang ditampilkan di segmen olahraga malam hari. Periode Januari–Mei 2026, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 23.470 pekerja Indonesia terkena PHK akibat tekanan kurs dan instabilitas ekonomi global. Antara Januari-April saja, angka itu sudah 15.425. Melonjak 84 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Serikat buruh meyakini angka sesungguhnya jauh lebih besar, karena banyak perusahaan melakukan pemotongan karyawan diam-diam tanpa laporan resmi. Di saat yang bersamaan, nilai tukar rupiah mencapai rekor terendah sepanjang sejarah: Rp18.020 per dolar AS pada awal Juni 2026. Bukan sekadar angka di layar trading. Ini berarti harga impor naik, biaya hidup melonjak, dan daya beli kelas menengah semakin tergerus.
Inflasi sempat menembus 4,76 persen pada Februari 2026, melanggar batas atas target Bank Indonesia. Fitch dan Moody's sudah merevisi outlook Indonesia ke negatif, dengan risiko downgrade dari peringkat investasi yang kian nyata.
Kondisi ketenagakerjaan juga menyedihkan. Pengangguran anak muda Indonesia berada di kisaran 16-17 persen tertinggi di Asia. Laporan LPEM UI yang melibatkan 85 ekonom menyebut persepsi negatif terhadap perekonomian Indonesia tidak berbalik dalam 18 bulan terakhir. Sementara PDB Q1 2026 secara teknis tumbuh 5,61 persen, angka itu ditopang oleh pengeluaran pemerintah yang melonjak 21,81 persen dan efek musiman Ramadhan Lebaran. Bukan oleh perbaikan struktural. Fulcrum menyebutnya blak-blakan: "growth for the state, not for the people." Ini potret Indonesia saat bola mulai bergulir di kandang Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

8 hours ago
10
















































