Apa yang Sudah Kita Kirim untuk Esok?

3 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada hari-hari ketika kita begitu sibuk menyiapkan hari esok. Kalender diisi, pekerjaan direncanakan, tabungan dihitung, pendidikan anak dipikirkan, dan masa tua dipersiapkan. Namun Al-Qur’an mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi dan jauh lebih panjang jangkauannya: dari semua kesibukan hari ini, apa yang sebenarnya telah kita kirim untuk “esok” yang tidak pernah berakhir?

Pertanyaan itu hadir dalam QS Al-Hashr ayat 18. Menariknya, Allah tidak hanya memerintahkan orang beriman untuk bertakwa, tetapi menyelipkan di antara dua perintah takwa sebuah ajakan untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan. Seolah-olah iman tidak cukup hanya dirasakan; ia perlu diperiksa jejaknya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad(in), wattaqullāh(a), innallāha khabīrum bimā ta‘malūn(a).

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

QS Al-Hashr: 18. Teks ayat dan maknanya menempatkan “hari esok” sebagai sesuatu yang harus dipersiapkan melalui amal yang dilakukan sekarang.

Apa yang Kita Simpan untuk Menghadap Allah?

Ibnu Katsir membuka penjelasan ayat ini dari kata yang paling mendasar: takwa. Ketika Allah berfirman, “ittaqūllāh”, bertakwalah kepada Allah, Ibnu Katsir menjelaskannya sebagai menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Jadi takwa bukan sekadar rasa takut di dalam hati, melainkan sikap yang meninggalkan bekas dalam pilihan dan tindakan.

Yang menarik, perintah bertakwa muncul dua kali dalam satu ayat. Di antara keduanya terdapat kalimat, “waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad”, hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.

Ibnu Katsir memberikan penjelasan yang sangat kuat atas bagian ini: manusia diperintahkan untuk menghisab dirinya sebelum kelak dihisab. Ia harus melihat amal saleh apa yang telah disimpannya untuk hari ketika dirinya kembali dan berdiri di hadapan Allah.

Di sinilah kata “ghad” atau “esok” memperoleh kedalaman makna. Esok dalam percakapan sehari-hari hanyalah jarak satu malam. Tetapi dalam ayat ini, Ibnu Katsir memahaminya sebagai hari kembali kepada Allah dan hari ketika manusia dihadapkan kepada-Nya.

Ada sesuatu yang sangat menyentuh dari pilihan kata itu. Akhirat yang terkadang terasa jauh oleh manusia disebut Allah dengan sebuah kata yang begitu dekat: esok.

Seakan-akan Al-Qur’an mengikis ilusi bahwa kita masih mempunyai waktu yang sangat panjang. Kita sering memperlakukan akhirat seperti sebuah negeri yang letaknya jauh. Padahal setiap matahari yang tenggelam sedang mengurangi jarak menuju ke sana.

Karena itulah ayat ini tidak mengatakan agar manusia hanya memikirkan akhirat. Ia meminta manusia “melihat” apa yang telah dikirimkan ke sana.

Read Entire Article
Politics | | | |