AS Bombarir Iran untuk Keempat Kalinya, Teheran Sebut Kejahatan Perang

4 hours ago 3

loading...

Amerika Serikat kembali membombardir wilayah Iran untuk keempat kalinya dini hari tadi. Teheran menyebutnya sebagai kejahatan perang. Foto/X @CENTCOM

TEHERAN - Militer Amerika Serikat (AS) kembali membombardir wilayah Iran pada Senin (13/7/2026) dini hari WIB, yang menjadi serangan putaran keempat sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata. Amerika berdalih pengeboman ini sebagai respons atas serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

“Pada pukul 17.00 sore ET hari ini [waktu AS], pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangan tambahan terhadap Iran untuk terus melemahkan kemampuannya menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi Selat Hormuz. Panglima Tertinggi telah mengarahkan serangan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran,” kata Komando Pusat AS atau CENTCOM dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: AS Serang Iran Lagi untuk Ketiga Kalinya

Media-media Iran melaporkan ledakan di bagian selatan negara itu, termasuk di kota-kota pelabuhan Bandar Abbas, Sirik, dan Jask, serta di Pulau Qeshm. Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk serangan terbaru Amerika sebagai “kejahatan perang".

Eskalasi terbaru ini semakin merusak nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada 17 Juni. Sejak penandatanganan itu, kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka akan tetap menutup Selat Hormuz yang strategis bagi semua pelayaran sampai AS mengakhiri “intervensi ilegalnya” di wilayah tersebut.

Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengecam "kesepakatan sepihak", dan memperingatkan AS untuk "menepati janji atau membayar harganya."

CENTCOM mengatakan pasukan AS telah menyerang lebih dari 300 target militer selama tiga malam sebelumnya. Pada hari Minggu, Iran menanggapi dengan meluncurkan rudal ke lima negara Teluk Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan Amerika.

Read Entire Article
Politics | | | |