REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Bagaimana sikap yang tepat ketika memiliki teman yang sudah terlanjur mengidentifikasi diri sebagai LGBT? Pertanyaan tersebut muncul dari seorang santri dalam acara "Remaja Bertanya, Ulama Menjawab" yang digelar Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Kabupaten Tangerang, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian "Maestro Summit: Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim se-Indonesia' sekaligus pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII.
Menjawab pertanyaan santri, Guru Besar Universitas Budi Luhur, Prof Umaimah Wahid menekankan bahwa pendekatan kepada teman yang sudah terlanjur LGBT harus dilakukan dengan cara yang baik, penuh pendampingan, dan tanpa perundungan.
Menurut dia, langkah pertama adalah terus mengajak teman tersebut untuk kembali kepada fitrahnya.
"Kalau ada teman yang sudah terlanjur LGBT, kita bisa terus menyampaikan atau mengajak dia untuk kembali sesuai fitrahnya," ujar Prof Umaimah.
Apabila nasihat dari teman sebaya belum diterima, ia menyarankan agar yang bersangkutan diarahkan kepada orang yang lebih dipercaya dan memiliki kapasitas memberikan bimbingan.
"Kalau dia tidak percaya karena sama-sama teman, bawalah kepada orang yang lebih dia percayai sehingga bisa memberikan pencerahan atau informasi yang lebih baik bagaimana caranya agar dia bisa kembali kepada hal yang fitrah tadi," ujarnya.
Selain itu, Prof Umaimah menilai lingkungan pergaulan juga perlu menjadi perhatian. Menurut dia, seseorang bisa saja terpengaruh oleh lingkungan atau kelompok tempat bergaulnya.
Karena itu, ia menyarankan agar teman yang bersangkutan diajak mengikuti berbagai aktivitas positif yang dapat membangun karakter dan menjauhkan dari pengaruh yang dinilai tidak baik.
"Dia diajak kepada aktivitas-aktivitas yang bagus. Di pesantren pasti banyak aktivitas yang baik. Kalau itu terjadi di luar pesantren juga pasti ada kegiatan yang baik. Harapannya agar dia terhindar dari hal-hal yang tidak baik," katanya.
Dia juga menyinggung pengaruh media sosial yang dapat memperkuat pergaulan tertentu. Menurut Prof Umaimah, apabila seseorang terpapar melalui media sosial, salah satu langkah yang dapat ditempuh ialah membatasi atau keluar dari lingkungan digital yang dianggap memberi pengaruh negatif.
"Kalau dia sudah terpapar oleh media sosial dengan teman-teman itu, mungkin keluar dari media sosial tersebut. Konsekuensi logisnya seperti itu," ujarnya.
Kendati demikian, Prof Umaimah mengakui proses tersebut tidak mudah. Namun, ia menilai perubahan tetap memungkinkan apabila ada kemauan dari orang yang bersangkutan dan dukungan dari lingkungan terdekat.
"Yang penting adalah meyakinkan teman kita tersebut untuk kembali ke fitrah. Memang tidak mudah biasanya. Tapi bisa dilakukan kalau dia berkomitmen dan kita mendampingi," jelasnya.
Prof Umaimah juga mengingatkan agar siapa pun tidak merendahkan atau melakukan perundungan terhadap orang yang memiliki kecenderungan LGBT. Menurut dia, tindakan membully bukanlah solusi.
"Jangan menghakimi. Jangan dibully. Jangan membully orang yang kita tidak sukai. Membully itu adalah kejahatan juga," ucapnya.
Pernyataan Prof Umaimah ini sejalan dengan perhatian MUI terhadap isu LGBT yang akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam Kongres Umat Islam Indonesia VIII yang akan digelar di Hotel Bidakara, Jakarta pada 24-26 Juli 2026.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, mengatakan fenomena LGBT dinilai menjadi persoalan strategis yang memerlukan perhatian serius. Karena itu, MUI tengah menginisiasi penyusunan naskah akademik sebagai langkah awal penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang penanggulangan LGBT.
Menurut Amirsyah, naskah akademik tersebut nantinya akan diserahkan kepada DPR RI sebagai bahan pertimbangan penyusunan regulasi. Penyusunannya akan melibatkan berbagai pakar, mulai dari ahli hukum, psikologi, hingga kesehatan agar memiliki landasan akademik yang kuat.
Selain membahas isu LGBT, Kongres Umat Islam VIII juga akan mengangkat sejumlah isu strategis lainnya, seperti pemberantasan korupsi, penguatan ekonomi umat, serta penguatan literasi digital dan otoritas keilmuan di tengah derasnya arus informasi media sosial. Kongres tersebut mengusung tema "Umat Bersatu, Negara Kuat, Bangsa Berdaulat."

9 hours ago
8















































