Dari Lumpur ke Harapan, Penyintas Bencana: Kami Kembali, Ini Rumah Kami

2 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi di Desa Tetingi datang dengan sunyi yang berbeda. Kabut tipis menggantung di sela pinus, menyisakan aroma tanah basah yang belum sepenuhnya pulih dari luka.

Di kejauhan, suara palu bertemu papan, ritmis, seperti doa yang dipukul perlahan. Di tempat ini, hidup tak benar-benar berhenti, ia hanya sempat terseret arus, lalu mencoba kembali, setapak demi setapak.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, kisah serupa tumbuh dari rumah-rumah yang sempat terkubur lumpur. Muhammad Hendra masih mengingat bagaimana lantai rumahnya hilang di bawah endapan setinggi lebih dari satu meter. Ia dan keluarganya mengungsi, menunggu waktu, sekaligus mengumpulkan keberanian untuk kembali.

Lebih dari satu setengah bulan ia membersihkan lumpur, memperbaiki atap, mengganti plafon, hingga akhirnya rumah itu kembali layak dihuni. Semua dilakukan dengan biaya sendiri, dari hasil menjual emas sang istri dan meminjam kepada keluarga. Bantuan yang dijanjikan belum juga tiba, sementara kebutuhan hidup tak bisa menunggu. Namun, di balik itu, ada keteguhan yang tak mudah runtuh.

“Kami kembali karena ini rumah kami,” katanya lirih.

Dari Aceh Tamiang ke Tetingi di Gayo Lues, lanskapnya berubah, namun ceritanya serupa. Desa tua yang tumbuh mengikuti aliran anak sungai di DAS Alas itu sejak lama bersahabat dengan alam, sekaligus menanggung risikonya. Suhu dingin, jeram deras, dan kontur pegunungan adalah keseharian. Tetapi, ketika hujan turun tanpa jeda dan sungai meluap, keseimbangan itu runtuh seketika.

Sebanyak 418 jiwa terdampak. Rumah-rumah hancur, jalan putus, listrik padam. Warga bertahan di pondok sederhana, ditemani api unggun dan pakaian yang melekat di badan. Selama hari-hari itu, hidup seolah kembali ke bentuk paling purba, bertahan dan menunggu.

Pertolongan datang kurang dari sepuluh hari kemudian. Jalan alternatif dibuka, jembatan diperbaiki, listrik kembali menyala. Perlahan, desa yang sempat terputus dari dunia itu kembali terhubung. Tiga bulan masa tanggap darurat berlalu, meninggalkan jejak rekonstruksi yang tampak nyata, rumah berdiri, sekolah dibersihkan, dan harapan mulai tumbuh.

Namun, di balik kebangkitan itu, terselip kegamangan yang tak kasatmata.

Di siang yang terik, Salim, seorang penyintas, berdiri di depan rumah barunya, semi permanen, dibangun dari sisa-sisa material yang terseret banjir. Ia memilih tidak tinggal di hunian sementara yang disediakan pemerintah. Bukan karena enggan, melainkan karena kabar yang beredar.

Ada syarat, katanya, setiap kepala keluarga diminta membayar sejumlah uang untuk mendapatkan kunci hunian sementara.

Isu itu menyebar cepat, seperti kabar yang menemukan jalannya sendiri di tengah ketidakpastian. Ketika petugas datang, pengumuman yang sebelumnya terpampang tiba-tiba menghilang. Yang tersisa hanya kecurigaan.

Read Entire Article
Politics | | | |