Bahaya Self-Diagnosis, Orang Tua Jangan Asal Tebak Gejala Alergi Susu Anak

5 hours ago 9

Susu (ilustrasi). Menurut dokter, orang tua perlu memeriksakan ke fasilitas kesehatan bila anak diduga memiliki alergi terhadap protein susu sapi, bukannya mendiagnosis sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menghadapi tumbuh kembang buah hati sering kali penuh dengan cerita dan tantangan. Salah satu momen yang kerap membuat para orang tua, khususnya para ibu, merasa cemas adalah ketika anak menunjukkan reaksi fisik tertentu setelah mengonsumsi susu.

Mulai dari munculnya bintik kemerahan di kulit, anak yang tiba-tiba rewel karena perutnya tidak nyaman, hingga gejala menyerupai flu yang tidak kunjung sembuh. Sayangnya, di era keterbukaan informasi digital saat ini, tidak sedikit orang tua yang langsung mengambil jalan pintas dengan melakukan diagnosis mandiri alias self-diagnosis bermodalkan mesin pencari di internet. Fenomena ini dinilai justru berisiko menunda penanganan yang tepat bagi anak.

Menyikapi kekhawatiran tersebut, dokter spesialis anak konsultan alergi imunologi lulusan Universitas Indonesia, dr Molly Dumakuri Oktarina, (K) mengatakan orang tua perlu memeriksakan ke fasilitas kesehatan bila anak diduga memiliki alergi terhadap protein susu sapi, bukannya mendiagnosis sendiri. Langkah awal yang objektif secara medis sangat penting dilakukan agar anak tidak kehilangan momentum tumbuh kembangnya akibat pola penanganan yang keliru.

Alergi pada anak disebut memiliki keterikatan yang kuat dengan faktor genetika atau riwayat kesehatan dari orang tua itu sendiri. Oleh karena itu, kesadaran akan risiko ini harus dibangun sejak awal. "Bila khususnya untuk bunda-bunda atau teman-teman yang memiliki risiko alergi, maka anak-anaknya tentunya berisiko. Dan kalau curiga, yuk jangan sungkan-sungkan untuk konsultasi ke pakar kesehatan," kata dokter Molly pada pekan lalu.

Mengenali gejala alergi susu sapi memang gampang-gampang susah karena bentuk reaksinya yang sangat beragam dan bisa menyerang organ tubuh yang berbeda. Dokter Molly mengatakan setidaknya 50 sampai 60 persen anak dengan alergi protein susu sapi mengalami gejala pada saluran pencernaan yang meliputi kolik, konstipasi, muntah hingga diare. Masalah pencernaan ini sering kali membuat anak merasa sangat tidak nyaman dan terus menangis tanpa sebab yang jelas.

Selain saluran cerna, area kulit luar juga menjadi organ yang paling sering bereaksi. Sementara gejala pada kulit dialami sekitar 50 hingga 60 persen anak dengan gejala kemerahan pada kulit, kulit bentol disertai gatal serta pembengkakan bibir atau kelopak mata. Tidak berhenti di situ, bagian pernapasan anak pun bisa ikut terdampak. Dan 20 hingga 30 persen anak mengalami gejala pada saluran pernapasan yang meliputi pilek alergi, batuk kronis, napas yang berbunyi atau wheezing dan terkadang tidak disertai demam.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |