REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Publik terus menyoroti depresiasi nilai tukar rupiah yang saat ini telah menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) menekankan, menjaga rupiah tidak hanya dilakukan melalui kebijakan, tetapi juga keyakinan bersama.
Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS.
Dalam unggahan di akun Instagram resmi BI, @bank_indonesia, bank sentral membahas fenomena rupiah yang tengah mengalami tren pelemahan. Melalui judul unggahan "Satu Tim, Satu Tujuan: Menjaga Nilai Tukar", BI menggambarkan upaya menjaga rupiah sebagai kerja sama tim dalam sebuah pertandingan.
"Ibarat tim yang sedang berlaga di liga dunia, kita sedang dihadapkan dengan pertandingan yang tidak biasa. Butuh kerja keras bersama, strategi tepat, amunisi lengkap, dan aksi," tulis BI dalam akun Instagram resminya, dikutip Jumat (5/6/2026).
BI menjelaskan lebih lanjut pengibaratan tersebut. Disebutkan bahwa di lapangan, setiap pemain memiliki perannya masing-masing. Ada yang bertugas menjaga stabilitas permainan, memastikan energi tim tetap terjaga sepanjang pertandingan, dan ada satu peran yang juga sangat menentukan, yaitu support system.
Kata support system ditandai dengan warna kuning. BI kemudian menjelaskan bahwa setiap dukungan dari support system membentuk dan menguatkan kepercayaan terhadap tim. Sebaliknya, keraguan dapat melemahkan permainan.
"Ini bukan permainan individu. Untuk memenangkannya butuh kombinasi strategi: moneter, fiskal, dan kepercayaan publik yang bergerak dalam satu arah," tegas BI.
BI menjelaskan sebagai pihak yang bertugas menjaga stabilitas, bank sentral memaksimalkan berbagai instrumen yang dimiliki melalui tujuh langkah menjaga stabilitas rupiah.
Pertama, memperkuat intervensi di pasar valuta asing (valas) di dalam maupun luar negeri melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri di pusat keuangan global secara berkelanjutan (around the clock).
Kedua, mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar tetap menarik. BI juga menaikkan suku bunga SRBI dalam beberapa bulan terakhir. Kebijakan tersebut dinilai berhasil mendorong kembali aliran modal asing masuk (portfolio inflow) ke pasar keuangan domestik setelah sebelumnya sempat terjadi outflow. Masuknya aliran modal tersebut membantu memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung kecukupan pasokan valas di dalam negeri.
Ketiga, membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bentuk sinergi fiskal dan moneter. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan sekaligus memperkuat sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal. BI mencatat pembelian SBN pada 2026 hingga 19 Mei 2026 mencapai Rp 140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp 73,28 triliun.
Keempat, menjaga kecukupan likuiditas di perbankan dan pasar uang dengan mempertahankan pertumbuhan uang primer (M0) di atas 10 persen sesuai arah ekspansi moneter.
Kelima, memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui implementasi penurunan threshold tunai pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25 ribu dolar AS per orang per bulan yang mulai berlaku pada Juni 2026, serta perluasan transaksi yuan dan rupiah dalam rangka Local Currency Transaction (LCT).
Keenam, memperkuat intervensi di pasar offshore NDF. Langkah itu dilakukan melalui perluasan keikutsertaan perbankan dalam transaksi offshore NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) yang memenuhi persyaratan BI.
Ketujuh, memperkuat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi melalui koordinasi erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

13 hours ago
12

















































