REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umumnya anak-anak memiliki rasa penasaran atau keingintahuan yang tinggi. Hal ini mungkin terjadi ketika ananda diberi penjelasan mengenai Tuhan, yakni Allah SWT.
Tidak jarang, ada anak yang bertanya kepada orang tuanya, Allah ada di mana? Lantas, bagaimana orang tua menjawabnya?
Ustaz Ahmad Sarwat, sebagaimana dikutip dari laman Rumah Fiqih, menjelaskan, orang tua Muslim sudah sepatutnya mengajarkan kepada anak sejak dini bahwa Allah adalah Tuhan kita.
Dan, tidak mungkin mengenal Diri-Nya kecuali dengan cara Dia sendiri yang memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia.
Mungkin, orang tua pernah mendengar ungkapan semisal "Tuhan ada pada diri kita manusia" atau "Tuhan ada dalam hati." Bahkan, ada juga yang menyatakan, "Tuhan ada di mana-mana, di segala tempat."
Dalam perspektif ajaran Islam, ungkapan-ungkapan di atas sesungguhnya kurang tepat. Benarkan Tuhan menyatakan bahwa Diri-Nya ada dalam hati manusia? Benarkah Tuhan menyatakan bahwa Diri-Nya ada di mana-mana?
Jangan-jangan ungkapan itu tidak benar. Kalau tidak benar, berarti salah? Tentu sangat fatal sekali akibatnya, sebab kita telah memandang Tuhan bukan dengan cara yang benar. Kita menganggap Tuhan dengan pandangan yang keliru.
Ungkapan bahwa Tuhan itu ada di dalam diri kita, sebenarnya datang dari sebuah kepercayaan yang menyimpang. Para peneliti mengatakan bahwa pemikiran itu datang dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud Tuhan dengan manusia). Paham ini telah dikafirkan oleh para ulama kita yang dahulu dan sekarang.
Ungkapan bahwa Tuhan ada di mana-mana, juga menyimpang dan merupakan pendapat dari kaum Jahmiyyah (paham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu'tazilah.
Allah ada di mana?
Untuk menjawab pertanyaan ananda, mudah saja. Orang tua dapat mengajak sang anak untuk membuka kitab suci Alquran. Sebab, itulah firman Allah SWT. Itulah kitab yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Alquran berlaku universal untuk seluruh manusia hingga akhir zaman.
Dalam Alquran, Allah SWT telah menjelaskan perihal keberadaan Diri-Nya.
Karena itu, tidak perlu orang tua berpusing tujuh keliling menjawab pertanyaan ananda itu. Jawab saja dengan merujuk pada Alquran. Sebab, Alquran adalah penjelasan resmi dari Allah SWT sendiri. Jadi, tidak mungkin salah.
Bukalah surah Taha ayat kelima. Kemudian, surah al-A'raf ayat ke-54.
اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
"(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih (dan) istiwaa di atas ʻArasy."
Istiwaa ini berarti 'bersemayam'. Terjemahan lainnya adalah 'berkuasa'.
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ ۢ بِاَمْرِهٖٓۙ اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
"Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa atas ʻArasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah! Hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam."
Maka, jawaban atas pertanyaan anak, "Allah ada di mana" ialah: "Nak, kata Allah, Dia berada di atas Arasy."
'Arasy adalah makhluk Allah yang paling tinggi, berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali, sebagaimana diterangkan oleh sahabat Nabi, Ibnu Abbas. Tidak seorang pun dapat mengukur berapa besarnya Arasy.

1 hour ago
3















































