
Oleh: Buya Anwar Abbas*)
Semua kita tentu ingin Indonesia berubah menjadi lebih baik dan maju. Namun, jangan sampai perubahan tersebut hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan serta menyengsarakan banyak orang.
Sayangnya, itulah yang banyak terjadi, sejak masa Orde Baru hingga Era Reformasi. Kita melihat, banyak tanah dan wilayah yang tadinya kotor dan tidak terurus dengan baik oleh penduduk yang tinggal di sana, kini setelah disentuh oleh pihak pengembang (developer) dengan membangun real estate dan mal, kawasan tersebut berubah menjadi indah dan rapi. Mata kita menjadi sejuk melihat dan memandangnya.
Namun, kalau kita bisa melihat apa yang terjadi di balik proses pembangunan tersebut, hati kita sebagai manusia akan langsung tersayat-sayat. Sebab, pembangunan itu ternyata didirikan di atas pengorbanan dan penderitaan rakyat banyak.
Sebagai contoh, sebuah kawasan elite di daerah Jakarta Selatan. Si pemilik tanah sudah sejak tahun 1970-an berjuang untuk mendapatkan haknya. Namun, sampai hari ini tidak ada solusinya.
Sebab, pihak penegak hukum bukannya membela keadilan, tetapi membela yang bayar. Alhasil, nasib si pemilik tanah terlunta-lunta. Bahkan, ahli warisnya satu persatu sudah pada meninggal dalam keadaan miskin.
Di daerah Tangerang, kita melihat bagaimana rakyat menjerit-jerit meminta tolong. Sebab, tanah mereka diambil dengan cara-cara yang sangat tidak berperikemanusiaan, tidak berkeadilan.
Mereka sudah berteriak-teriak, meminta keadilan, tetapi suara mereka tidak didengar oleh pemerintah. Maka terkadang kita bingung sendiri, untuk siapa sebenarnya penguasa memerintah?
Mereka memang dengan tegas menjawab, 'kami memerintah untuk rakyat.' Namun, kalau ditanya rakyat mana yang telah mereka bela? Ternyata, itu adalah rakyat yang ada di lapis atas, yang namanya pengusaha, pemilik kapital, atau oligarki---bukan rakyat yang ada di lapis bawah yang merupakan pemilik sah dari tanah dan kawasan tersebut.
Sekarang, rezim sudah berganti. Kehadiran Prabowo Subianto sebagai Presiden RI memang banyak menjanjikan harapan, terutama bagi masyarakat yang ada di lapis bawah. Mereka yang selama ini banyak terzalimi dan dimarjinalisasi oleh proses pembangunan.
Namun, apakah Presiden Prabowo akan bisa mewujudkan kata-kata dan janjinya? Atau, itu sekadar omon-omon belaka?
Waktulah yang akan menjawabnya.
*) Dr H Anwar Abbas MM MAg atau yang akrab disapa Buya Anwar Abbas merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dosen tetap Prodi Perbankan Syariah FEB UIN Syarif Hidayatullah ini juga adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat, dan Lingkungan Hidup.

1 hour ago
2















































