BPS Rilis Data Ekspor Impor, Rupiah Malah Loyo Mendekati Level Rp 17.400

1 hour ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan pelemahan, nyaris menyentuh level Rp 17.400 per dolar AS pada Senin (4/5/2026). Pelemahan mata uang Garuda terjadi usai rilis data ekspor-impor oleh Badan Pusat Statistik (BPS), di mana nilai ekspor tercatat terkoreksi dan ekspor migas mengalami defisit.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp 17.394 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (4/5/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.353 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen internal yang memengaruhi pergerakan fluktuatif rupiah pada hari ini adalah data ekspor-impor Indonesia pada Maret 2026 yang baru dirilis BPS.

BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 surplus 3,32 miliar dolar AS, menunjukkan surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kondisi surplus itu disebabkan nilai ekspor sebesar 22,53 miliar dolar AS atau turun 3,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan impor 19,21 miliar dolar AS atau tumbuh 1,51 persen.

Surplus Maret 2026 ditopang oleh komoditas nonmigas dengan surplus 5,21 miliar dolar AS. Komoditas penyumbang utama antara lain minyak dan lemak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. “Sementara komoditas migas defisit 1,89 miliar dolar AS, dengan penyumbang defisit minyak mentah, hasil minyak, dan gas,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Neraca perdagangan kumulatif pada Januari–Maret 2026 mencatat surplus 5,55 miliar dolar AS. Surplus pada kuartal I 2026 itu ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar 10,63 miliar dolar AS. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit 5,08 miliar dolar AS.

“Kemudian, aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus dampak perang hingga mengalami kontraksi. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini merupakan yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi,” lanjut Ibrahim, menjelaskan sentimen lainnya.

Ia menerangkan, PMI mengalami kontraksi karena terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal II 2026 akibat sejumlah faktor. Kontraksi tersebut didorong oleh penurunan berkelanjutan dalam volume produksi. Penurunan itu terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.

Sentimen Eksternal

Fluktuasi rupiah juga dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dinamika peperangan di Timur Tengah antara Iran dan AS-Israel.

Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz. “Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan AS, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini, sehingga mereka dapat dengan bebas melanjutkan bisnis mereka,” tulis Trump dalam unggahan di situs Truth Social miliknya pada Ahad.

“Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk,” ujarnya.

Sementara itu, di Eropa Timur, Ukraina melancarkan serangkaian serangan drone terhadap target di Rusia pada Ahad, menghantam pelabuhan Primorsk di Laut Baltik dan membakarnya, serta menyerang sejumlah kapal. Hal itu terjadi seiring peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi dan target lainnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada terminal minyak. Serangan itu juga mengenai kapal tanker minyak, kapal rudal kecil kelas Karakurt Rusia, serta kapal patroli di Laut Baltik, katanya di Telegram.

Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah masih akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan selanjutnya, Selasa (5/5/2026).

“Diprediksi pada perdagangan Selasa, mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.390–Rp 17.440 per dolar AS,” tutupnya.

Read Entire Article
Politics | | | |