BSI Putuskan tak Bagikan Dividen 2025, Fokus Perkuat Modal

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) menyampaikan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut diambil karena BSI memerlukan dukungan modal yang lebih besar untuk tumbuh agresif pada 2026, setelah menyandang status sejajar dengan bank himpunan milik negara (Himbara).

“BSI memang agak berbeda dengan kebanyakan bank, di mana BSI baru saja memasuki growing stage. Jadi, ketika suatu perusahaan atau institusi seperti kami berada dalam growing stage, dividen payout biasanya menjadi prioritas kedua, setelah diskusi mengenai seberapa agresif BSI bisa tumbuh ke depan,” kata Direktur Finance & Strategy PT BSI Ade Cahyo Nugroho dalam konferensi pers Kinerja Tahun 2025 secara daring, Jumat (6/2/2026).

Ia mengatakan kinerja BSI sepanjang 2025 berjalan cukup positif dan akan terus didorong untuk tumbuh lebih tinggi pada 2026. Karena itu, perseroan membutuhkan sokongan modal yang lebih suportif ke depan.

“Pertumbuhan bisnis BSI pada 2026 masih dalam nada yang sama. Artinya, jika kita ingin tumbuh agresif, ada kebutuhan capital untuk mendukung pertumbuhan tersebut,” terangnya.

Kendati demikian, Cahyo menyampaikan kebijakan dividen ke depan juga bergantung pada keputusan para pemegang saham BSI, yakni Pemerintah dan PT Danantara Asset Management (Persero) (DAM). “Arahan terkait dividend payout tentu akan berpulang pada keputusan pemegang saham. Kami menilai BSI tidak akan mengambil langkah agresif terkait dividend payout seperti bank-bank yang lebih mature stage seperti bank Himbara lainnya. Kami lebih berfokus pada penguatan ekuitas untuk mendukung pertumbuhan BSI yang agresif, selagi momentumnya masih ada,” tuturnya.

Diketahui, BSI resmi menyandang status persero sejak 23 Januari 2026. Bank berkode emiten BRIS tersebut memfokuskan bisnisnya pada segmen consumer banking dan Islamic ecosystem setelah resmi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan status persero dan bukan lagi anak usaha, posisi BSI sejajar dengan keempat bank Himbara lainnya. Laporan keuangan bank syariah terbesar di Indonesia itu juga terpisah dari laporan keuangan konsolidasian para pemegang sahamnya.

BSI membukukan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun pada 2025. Laba tersebut meningkat sekitar 8,02 persen dibandingkan laba 2024 yang tercatat sebesar Rp 7,01 triliun.

Sepanjang 2025, kinerja BSI tumbuh secara solid, baik dari sisi aset, pembiayaan, maupun Dana Pihak Ketiga (DPK). Aset BSI mencapai Rp 456 triliun, tumbuh 11,64 persen secara year on year (yoy). Pembiayaan mencapai Rp 319 triliun, tumbuh 14,49 persen (yoy). Bank ini berhasil mempertahankan rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) yang rendah, yakni 1,81 persen pada 2025.

DPK tercatat tumbuh 16,20 persen (yoy) menjadi Rp 380 triliun. Sementara itu, pertumbuhan tabungan juga mencapai dua digit, yakni 15,72 persen menjadi Rp 163 triliun. Adapun tabungan haji tumbuh 10,03 persen menjadi Rp 15,9 triliun.

Kinerja BSI yang tumbuh sangat pesat terlihat pada bisnis emas atau bullion. Tercatat, gold business BSI mencapai Rp 22,9 triliun, tumbuh 78,60 persen pada 2025. BSI juga mencatatkan peningkatan jumlah nasabah sepanjang 2025 mencapai 2 juta, pertumbuhan tertinggi sejak BSI berdiri lima tahun lalu. Jumlah nasabah BSI telah menembus 23 juta hingga Desember 2025.

Read Entire Article
Politics | | | |