Rupiah Tertekan Akibat Penguatan Dolar AS dan Outlook Moody’s

2 hours ago 5

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat (6/2/2026), bergerak melemah 23 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 16.865 per dolar AS. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat (6/2/2026), bergerak melemah 23 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 16.865 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.842 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan kurs rupiah melemah seiring tren penguatan indeks dolar AS yang masih berlanjut.

“Tren penguatan indeks dolar masih berlanjut seiring meningkatnya permintaan obligasi pemerintah AS karena risiko pasar saham dan data tenaga kerja yang lemah,” katanya di Jakarta, Jumat.

Ia menyampaikan yield obligasi pemerintah AS turun 9 basis poin (bps) menjadi 4,18 persen, yang berarti terjadi peningkatan harga obligasi. Di pasar modal, risiko juga muncul dari potensi bubble harga pada saham berbasis teknologi, terutama perusahaan yang belanja besar untuk pengembangan kecerdasan buatan, sementara pengembaliannya belum terlihat jelas.

Pelemahan rupiah turut dipengaruhi revisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s, meskipun lembaga tersebut masih mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level Baa2.

Baru-baru ini, lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.

“Khusus untuk Moody’s yang menilai obligasi pemerintah Indonesia, penilaiannya lebih pada ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit, di mana belanja pemerintah yang meningkat tidak diimbangi oleh reformasi penerimaan negara,” ungkap Rully.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 16.887 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.826 per dolar AS.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |