REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Saat Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin dunia termasuk Presiden Prabowo Subianto menandatangani piagam “Dewan Perdamaian” di Davos, Swiss, pembunuhan dan penjajahan yang dilakukan pasukan Israel berlanjut di Gaza dan Tepi Barat. Sedikitnya empat warga Palestina syahid hari ini dalam serangan artileri Israel di lingkungan Zeitoun, sebelah timur Kota Gaza pada Kamis.
Kantor berita WAFA mengutip sumber-sumber medis melaporkan empat warga Palestina syahid dalam penembakan Israel di luar wilayah yang ditentukan di lingkungan Zeitoun, sebelah timur Kota Gaza.
Sebelumnya, seorang warga Gaza, Fadi Wael al-Najjar syahid akibat tembakan Israel di luar wilayah yang ditentukan di bundaran Bani Suheila, sebelah timur Khan Younis. Sebelas warga Palestina, termasuk tiga jurnalis, syahid pada Rabu, akibat serangan dan penembakan Israel di berbagai lokasi
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis, Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan bahwa 11 jenazah dan tujuh orang yang terluka dibawa ke rumah sakit di seluruh wilayah kantong tersebut dalam 48 jam terakhir.
Kementerian menambahkan bahwa “sejumlah korban masih berada di bawah reruntuhan dan di jalanan, karena tim ambulans dan pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka saat ini”.
Menurut kementerian tersebut, sejak gencatan senjata 10 Oktober, 477 warga Palestina telah syahid dan 1.301 luka-luka, sementara 713 jenazah telah ditemukan. Angka kumulatif sejak 7 Oktober 2023 mencapai 71.562 orang syahid dan 171.379 orang luka-luka, kata kementerian itu.
Penjajahan Israel juga menjadi-jadi di Tepi Barat. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyetujui izin kepemilikan senjata bagi warga Israel di 18 pemukiman ilegal. Sementara pasukan Israel menahan warga Palestina dalam penggerebekan di dekat Jenin, Nablus dan Hebron, ketika operasi militer di beberapa bagian Tepi Barat terus berlanjut.
Pemukim Israel juga memasuki pemukiman Tarsala, selatan Jenin, yang dievakuasi, di bawah perlindungan militer, sementara puluhan pemukim menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki.
Manal al-Qouqa, seorang ibu pengungsi di Gaza mengatakan “Dewan Perdamaian yang mereka bicarakan tidak ada dalam kenyataan”. “Setiap kali mereka mengumumkan sesuatu mengenai rakyat Palestina, penderitaan kami semakin bertambah,” katanya menanggapi penandatanganan Dewan Perdamaian.
"Perdamaian apa yang mereka bicarakan, padahal di lapangan tidak ada kedamaian dan keamanan? Kami sedang menjalani tragedi yang nyata. Saya melihat hal ini seperti Nakba tahun 1948 yang pernah kami alami – ini adalah Nakba yang baru dan modern, yang maju dalam setiap aspek kehidupan. Tidak ada kebutuhan dasar untuk hidup," ujarnya dilansir Aljazirah.
Suhail al-Hanawi, pengungsi Palestina lainnya mengatakan PM.Israel Benjamin Netanyahu dan Trump, keduanya merupakan anggota Dewan Keamanan, “adalah orang-orang di balik perang di seluruh dunia”.
“Mengenai Dewan Perdamaian dan kami, para pengungsi di kamp, tidak ada hal nyata yang membuat kami merasa bahwa segala sesuatunya akan diperbaiki atau penderitaan kami akan berkurang.”
Pengungsi Palestina Saed Na’im menyatakan skeptisisme atas pembicaraan perdamaian dan usulan rencana pembangunan untuk Gaza sehubungan dengan pertemuan puncak Dewan Perdamaian di Davos.
"Kami mendengar tentang perdamaian, tapi kami tidak benar-benar mengetahuinya. Kami tidak dapat melihat atau merasakan sesuatu yang nyata, dan kami tidak tahu kapan hal itu akan terjadi," katanya kepada Al Jazeera.
"Situasinya sangat buruk di tenda-tenda di musim dingin dengan suhu yang sangat dingin. Beberapa hari yang lalu, sembilan anak meninggal karena kedinginan. Tenda apa ini? Kalau untuk tiga bulan, orang bisa menahannya. Tapi ini sudah bertahun-tahun dan tahun-tahun mendatang. Ini bukan hidup, ini eksekusi.”

2 hours ago
1














































