Di Muktamar Ke-35 NU, Silatnas Lazisnu se-Dunia Perkuat Filantropi Berbasis Riset

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG— Pada helatan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, NU Care-Lazisnu PBNU menggelar Silaturahim Nasional (Silatnas) Lazisnu se-Dunia sebagai upaya memperkuat pengelolaan filantropi Nahdlatul Ulama (NU) berbasis riset dan data.

Silatnas digelar di aula Ponpes Darul Ulum, Peterongan, Jombang pada Sabtu (29/08/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu side event Muktamar ke-35 NU yang diselenggarakan NU Care-Lazisnu PBNU.

Silatnas diikuti 261 peserta dari berbagai unsur kepengurusan LAZISNU di berbagai tingkatan.

Peserta tersebut terdiri atas perwakilan 13 LAZISNU PWNU (provinsi) dengan 30 peserta, 111 Lazisnu PCNU (kabupaten/kota) dengan 202 peserta, serta satu Lazisnu PCINU (luar negeri) dengan dua peserta. Selain itu, terdapat 27 orang peserta tambahan.

Direktur Eksekutif NU Care-Lazisnu PBNU Riri Khariroh mengatakan bahwa Silatnas melibatkan para amil NU Care- Lazisnu dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Sabang hingga Merauke. Selain itu, turut hadir pula Lazisnu tingkat PCINU dari luar negeri, seperti Yordania dan Turki.

“Ini sebuah kebanggaan bagi kami,” kata dia,

Hal ini karena Silatnas bisa diselenggarakan di tempat muassis NU dan bertepatan dengan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

“Mudah-mudahan mendapatkan keberkahan dari seluruh kiai dan ulama di Muktamar ini,” ujar Riri.

Rangkaian Silatnas diisi dengan sejumlah agenda, antara lain penayangan film pendek bertajuk 'Merawat Kepedulian, Membangun Kemandirian, video profil NU Care- Lazisnu, peluncuran Modul Kampung Nusantara dan Modul UMKM Berdaya, dan pemaparan hasil riset Alvara Research Center.

Selain itu juga digelar Focus Group Discussion yang membahas tiga bidang strategis yakni, fundraising, program, dan tata kelola lembaga.

Salah satu agenda utama Silatnas adalah penyampaian hasil survei Alvara Research Center mengenai perilaku masyarakat dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Menurut Riri, data hasil survei tersebut penting sebagai pijakan dalam menyusun program dan strategi pengelolaan ZIS agar lebih tepat sasaran.

“Selama ini kita sering kali bergerak tanpa data,” katanya.

Read Entire Article
Politics | | | |