Dilirik AS-Australia, Kapal Perang Nigeria Ini Jadi Kunci Perang Masa Depan Lawan China

1 week ago 26

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapal pendarat amfibi Damen LST 100 buatan Belanda mulai menjadi sorotan dunia setelah dipilih oleh Amerika Serikat dan Australia sebagai bagian dari strategi baru perang pesisir di kawasan Indo-Pasifik.

Kapal ini dinilai memiliki kombinasi kemampuan angkut besar, mobilitas tinggi, dan fleksibilitas operasi yang cocok untuk menghadapi konflik modern di wilayah maritim dan pulau-pulau kecil.

Dikembangkan oleh Damen Shipyards Group, Damen LST 100 dirancang sebagai kapal pendarat serbaguna untuk operasi amfibi, pengangkutan pasukan dan kendaraan tempur, hingga misi bantuan kemanusiaan. Berbeda dari kapal perang besar yang membutuhkan pelabuhan khusus, kapal ini mampu mendarat langsung di pantai yang belum memiliki infrastruktur pelabuhan.

Keunggulan utama kapal ini terletak pada kemampuannya melakukan “beaching”, yaitu merapat langsung ke garis pantai menggunakan pintu dan landasan khusus untuk menurunkan kendaraan lapis baja, tank, logistik, maupun personel militer langsung ke daratan. Konsep ini membuatnya efektif untuk operasi cepat di wilayah pesisir dan pulau terpencil, sebagaimana diberitakan .

Kapal berbobot sekitar 2.800 ton ini memiliki area roll-on/roll-off sekitar 1.020 meter persegi dan mampu mengangkut lebih dari 500 ton perlengkapan militer. Muatannya mencakup tank tempur berat seperti M1 Abrams, sistem roket HIMARS, kendaraan tempur ringan, hingga pasukan infanteri dalam jumlah besar.

Selain itu, bagian belakang kapal dilengkapi dek penerbangan yang dapat digunakan untuk helikopter ukuran menengah seperti NH-90 dan SH-60 maupun berbagai jenis drone militer. Kombinasi kemampuan laut, darat, dan udara ini membuat Damen LST 100 dipandang cocok untuk peperangan modern yang membutuhkan mobilitas cepat dan operasi gabungan.

Nigeria menjadi negara pertama yang mengoperasikan kapal ini melalui kapal perang NNS Kada pada 2022. Kapal tersebut dibangun di galangan Albwardy Damen di Uni Emirat Arab sebagai bagian dari program modernisasi Angkatan Laut Nigeria.

Tidak lama setelah dioperasikan, NNS Kada langsung digunakan dalam misi regional ECOWAS di Guinea-Bissau pasca upaya kudeta gagal pada 2022. Dalam operasi itu, kapal digunakan untuk mengangkut pasukan dan kendaraan lapis baja ringan guna mendukung stabilisasi keamanan di negara Afrika Barat tersebut.

Keberhasilan operasi Nigeria menarik perhatian negara-negara Barat. Australia kemudian memilih desain LST 100 untuk program pengganti armada Landing Craft Heavy miliknya. Canberra berencana membangun delapan kapal secara lokal di galangan Austal mulai 2026.

Read Entire Article
Politics | | | |