REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mendorong pemerintah untuk menerbitkan global bond yang secara tidak langsung dapat membantu Bank Indonesia (BI) menstabilkan nilai tukar rupiah dan menjaga likuiditas dolar di dalam negeri. Ia menilai penerbitan global bond dalam jumlah lebih besar akan menjaga likuiditas rupiah di dalam negeri sekaligus menambah likuiditas dolar dari pasar global. Dengan cara ini, ekonomi dinilai dapat terlindungi dari volatilitas jangka pendek yang saat ini perlu diantisipasi.
“Saya sangat berharap, mudah-mudahan Kementerian Keuangan menambah issuance global bond. Saya berharap hingga 20 persen dari total funding pemerintah tahun ini. Kita butuh dukungan fiskal juga untuk menambah suplai dolar dalam negeri,” kata Fakhrul saat ditemui di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Fakhrul menyarankan pemerintah untuk menerbitkan global bond lebih banyak, baik dalam dolar maupun renminbi, karena permintaannya masih tinggi dan penerbitannya akan berdampak positif terhadap cadangan devisa Indonesia.
Menurut dia, penerbitan global bond dolar juga sebaiknya dilakukan di dalam negeri. Hal ini merujuk pada sejumlah kasus obligasi korporasi, di mana permintaan obligasi dolar AS di dalam negeri tercatat tinggi. Strategi ini dipandang dapat membantu menjaga dolar tetap berada di Indonesia.
Fakhrul juga mengingatkan bahwa neraca perdagangan yang menghasilkan masuknya banyak dolar harus dikelola dengan baik agar tetap berada dalam sistem keuangan domestik. Jika tidak, dolar bisa mengalir ke luar negeri dan hal ini harus diantisipasi oleh pemerintah.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah rata-rata pada tahun ini akan berada di kisaran Rp 16.500 per dolar AS. Hal ini ditopang oleh neraca perdagangan yang tetap positif dan cadangan devisa yang kuat, seiring meningkatnya pendapatan dari ekspor komoditas logam seperti timah dan nikel.
Terkait suku bunga acuan (BI-Rate) yang diputuskan tetap berada di level 4,75 persen pada bulan ini, ia memandang langkah bank sentral sudah tepat mengingat pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini hingga menyentuh level Rp 16.900 per dolar AS.
Menurutnya, pelemahan seperti ini biasanya terjadi saat kondisi pasar risk-off, terutama ketika ketidakpastian di Amerika Serikat belum jelas. Meski demikian, ia mencatat neraca perdagangan Indonesia cenderung surplus, yang menjadi penopang bagi rupiah.
Fakhrul memandang rupiah kemungkinan dapat menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Namun, kondisi tersebut diperkirakan hanya terjadi dalam jangka pendek dan tidak bertahan lama.
Untuk diketahui, BI melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen.
BI menyampaikan bahwa keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global. BI juga tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut.
Suku bunga yang tetap bertahan kali ini melanjutkan kebijakan yang tidak berubah sejak September 2025. BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen setelah sebelumnya menurunkannya sebanyak lima kali sejak awal 2025, masing-masing sebesar 25 bps, sehingga total penurunan mencapai 125 bps.
Menghadapi pelemahan rupiah belakangan ini, BI meningkatkan intensitas langkah stabilisasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar NDF, baik di offshore maupun onshore (DNDF), serta pasar spot.
BI memperkirakan rupiah akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.
sumber : Antara

2 hours ago
4















































