REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epilepsi masih sering disalahpahami oleh masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap epilepsi sebagai penyakit menular, gangguan kejiwaan, atau kondisi yang tidak bisa ditangani.
Padahal, secara medis, epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf yang dapat dikontrol dengan penanganan yang tepat. Menurut dokter spesialis bedah saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Wienorman Gunawan, Sp BS, epilepsi terjadi akibat adanya gangguan aktivitas listrik di otak.
“Otak manusia bekerja menggunakan sinyal listrik. Pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran,” katanya, Kamis (22/1/2026), dikutip dari siaran pers.
Salah satu mitos yang paling sering ditemui adalah anggapan bahwa epilepsi bisa menular. Dr Wienorman menegaskan hal ini tidak benar.
Epilepsi bukan disebabkan oleh infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. “Epilepsi juga bukan gangguan kejiwaan. Ini adalah kondisi medis yang berhubungan langsung dengan fungsi otak. Sederhananya, ini bukan soal mistis, tapi soal navigasi listrik di kepala kita,” tambahnya.
Epilepsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti riwayat cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, atau gangguan struktur otak lainnya. Namun, pada sebagian pasien, penyebab epilepsi tidak selalu dapat ditemukan secara pasti.
Tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang hebat. Pada beberapa orang, epilepsi dapat muncul sebagai tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau kehilangan kesadaran singkat. Karena gejalanya beragam, epilepsi sering kali tidak disadari sejak awal.
“Jika muncul episode 'blank' yang sering atau kejang tanpa demam, jangan abai. Itu adalah cara otak memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperiksa,” ujar dr Wienorman.
Saat menyaksikan seseorang mengalami kejang epilepsi, langkah pertama adalah tetap tenang. Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain pertama posisikan pasien miring ke samping untuk menjaga jalan napas tetap terbuka.
Kedua, singkirkan benda-benda keras atau tajam di sekitar pasien. Longgarkan pakaian di sekitar leher. Penting juga untuk mencatat durasi kejang bila memungkinkan.
Sedangkan hal yang tidak boleh dilakukan adalah memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien atau menahan gerakan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat hingga kesadaran pulih.
Bagi penderita, kejang mungkin merampas kendali tubuh selama beberapa menit. Penanganan di tempat yang tepat bisa memastikan penderita kembali menjadi 'nakhoda' bagi hidupnya sendiri.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Pitono, menegaskan komitmen layanan dalam menangani epilepsi secara menyeluruh. “Bethsaida Hospital Gading Serpong, dibawah naungan Bethsaida Healthcare, didukung oleh Klinik Saraf dan Bedah Saraf dengan dokter-dokter berpengalaman," katanya.
Menurut dr Pitoyo, epilepsi bukan kondisi yang harus ditakuti, namun juga tidak boleh diabaikan. Dengan pemahaman yang benar, penanganan pertama yang tepat, serta pendampingan oleh dokter spesialis bedah saraf yang berpengalaman, epilepsi dapat dikelola dengan baik sehingga pasien tetap dapat menjalani hidup secara aktif dan produktif.

1 hour ago
2















































