Euforia BI Tahan Bunga, Rupiah Dibuka Menguat di Level Rp16.900-an

2 hours ago 5

Karyawan menghitung uang dollar di money changer PT Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran. Diketahui, penurunan nilai rupiah merupakan dampak dari kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif balasan atau resiprokal terhadap ratusan negara. Trump telah mengumumkan tambahan tarif untuk produk impor asal sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32 persen yang mulai berlaku penuh per 9 April 2025. Sejumlah mata uang Asia turut melemah. Yuan China melemah 0,17%, rupee India melemah 0,71%, dolar Hong Kong melemah 0,04% dan ringgit Malaysia melemah 0,16%.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis (22/1/2026), bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.929 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp16.936 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai penguatan kurs rupiah dipengaruhi euforia pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuannya.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.900 hingga Rp16.950. Dari domestik, penguatan masih terkait euforia kebijakan suku bunga BI yang tidak berubah serta arah kebijakan BI yang jelas untuk menjaga volatilitas rupiah,” kata Rully di Jakarta, Kamis.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 yang berlangsung pada Selasa (20/1/2026) dan Rabu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen.

Suku bunga deposit facility juga dipertahankan pada level 3,75 persen, sementara suku bunga lending facility tetap berada pada level 5,5 persen.

BI menyampaikan keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global, guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, BI juga akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Selain itu, BI tetap mencermati ruang penurunan BI-Rate lebih lanjut, dengan mempertimbangkan proyeksi inflasi 2026–2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, serta upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Politics | | | |