REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru saja meluncurkan visi revolusioner yang menyebut bahwa harta karun masa depan Indonesia bukanlah nikel atau batubara, melainkan kekayaan budaya yang selama ini dianggap hanya sebagai pajangan sejarah. Dalam sebuah pernyataan tegas, ia menegaskan bahwa Indonesia sedang berada di ambang transformasi besar di mana tradisi akan diubah menjadi mesin ekonomi yang tak terbendung.
Siapa sangka, menteri yang dikenal vokal ini memberikan peringatan keras bahwa ketergantungan pada sumber daya alam harus segera diakhiri karena eksploitasi bumi ada batasnya. Ia memberikan bocoran strategis tentang bagaimana Indonesia akan mengejar ketertinggalan dari raksasa dunia lainnya dengan memanfaatkan satu-satunya sumber daya yang tidak akan pernah habis hingga akhir zaman: identitas budaya.
Langkah berani ini bukan sekadar wacana pelestarian kuno, melainkan cetak biru untuk menciptakan "Industri Budaya" yang akan membuat ekonomi Indonesia melesat ke level baru. "Budaya ini bukan hanya sekadar dilindungi atau dilestarikan. Lebih dari itu, budaya harus kita kembangkan dan kita manfaatkan menjadi ekonomi budaya dan industri budaya,” ujar Fadli dengan penuh keyakinan saat peluncuran buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan budaya ke depan tidak boleh lagi terjebak pada aspek perlindungan pasif. Menurutnya, Indonesia saat ini sangat mendesak untuk membangun ekosistem budaya yang kuat agar setiap helai kain dan setiap gerak tari dapat memberikan dampak finansial nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjadikan budaya sebagai pilar cultural economy yang berkelanjutan.
Fadli kemudian memberikan perbandingan tajam dengan negara-negara maju yang telah berhasil "menjual" identitas mereka ke kancah global. Amerika Serikat, misalnya, berhasil mendominasi dunia melalui industri film Hollywood, sementara Korea Selatan telah sukses besar membangun gelombang budaya global lewat K-Pop dan drama yang kini menjadi penyumbang devisa utama mereka.
“Negara-negara maju menjadikan budaya sebagai soft power sekaligus kekuatan ekonomi utama mereka,” tegas Fadli di hadapan para pegiat literasi dan tokoh kebudayaan yang hadir.
Lebih lanjut, ia menilai posisi Indonesia sebenarnya jauh lebih unggul dibandingkan negara-negara tersebut jika dilihat dari modal keragaman budayanya. Dengan ribuan suku dan tradisi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia dinilai memiliki peluang emas untuk menjadi pusat kebudayaan dunia yang memimpin tren global.
sumber : Antara

1 hour ago
2















































