FK-KMK UGM Tawarkan Sistem Asesmen Berkelanjutan untuk Perkuat Mutu Lulusan Dokter

2 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menggelar bedah buku berjudul Transformasi Asesmen Pendidikan Kedokteran melalui Programmatic Assessment dalam Kerangka Outcome-Based Education (OBE) di Auditorium Gedung Pascasarjana Tahir Utara FK-KMK UGM, Rabu (3/6/2026). Buku tersebut merupakan hasil kolaborasi 78 dosen dari berbagai institusi anggota Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) yang menawarkan pembaruan sistem penilaian dalam pendidikan kedokteran.

Editor buku sekaligus dosen Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika FK-KMK UGM, Prof dr Mora Claramita menjelaskan bahwa buku ini lahir dari proses panjang yang dimulai sejak masa pandemi Covid-19. Berbagai diskusi, webinar, penelitian, hingga forum akademik nasional menjadi fondasi lahirnya gagasan mengenai pentingnya asesmen berkelanjutan atau programmatic assessment dalam pendidikan profesi kesehatan.

Menurut Mora, selama ini sistem kelulusan dokter masih sangat bergantung pada asesmen sumatif berupa satu ujian besar di akhir masa pendidikan. Kondisi tersebut dinilai mendorong mahasiswa hanya berfokus pada kelulusan ujian, sementara proses pembelajaran sehari-hari yang membentuk kompetensi dokter justru kurang mendapat perhatian. Padahal, menjadi dokter tidak ditentukan oleh satu kali ujian, melainkan melalui perkembangan kompetensi yang dibangun secara konsisten selama masa pendidikan.

"Kita tidak perlu bergantung pada satu ujian tunggal atau rely on one single assessment. Dari kumpulan rekam jejak belajar itu, kemudian bisa terlihat jelas bahwa mahasiswa tersebut memang sudah memenuhi kompetensi yang diharapkan," ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Melalui konsep programmatic assessment, dr Mora mengatakan penilaian dilakukan secara longitudinal dengan memanfaatkan berbagai data asesmen yang terdokumentasi dalam portofolio mahasiswa. Data tersebut mencakup aspek kuantitatif maupun kualitatif yang dikumpulkan sejak pendidikan sarjana, profesi, hingga spesialis. Sistem ini memungkinkan pendidik memantau perkembangan mahasiswa secara lebih komprehensif dan memberikan umpan balik yang berkelanjutan.

dr Mora menekankan bahwa inti dari asesmen berkelanjutan bukan sekadar pengumpulan nilai, melainkan pemberian feedback yang konstruktif untuk mendorong refleksi diri mahasiswa. Berdasarkan penelitian yang melibatkan mahasiswa, dosen klinis, dan berbagai pemangku kepentingan melalui 12 kali Focus Group Discussion (FGD), salah satu persoalan yang paling sering muncul dalam pendidikan kedokteran adalah minimnya umpan balik yang bermakna serta masih kuatnya budaya pembelajaran yang berpusat pada dosen.

"Kami mengajukan dua pertanyaan sederhana, apa masalah utama dalam kurikulum pendidikan kedokteran saat ini, dan apa masalah utama dalam sistem asesmennya? Melalui 12 kali Focus Group Discussion (FGD), muncul beberapa temuan yang sangat konsisten. Temuan yang paling sering muncul adalah kurangnya constructive feedback. Selain itu, pembelajaran masih sangat berpusat pada dosen, meskipun pendidikan kedokteran telah lama menerapkan Problem-Based Learning dan kini mengadopsi OBE. Kurangnya dialog antara dosen dan mahasiswa juga menjadi isu yang berulang kali disampaikan," ucapnya.

"Padahal proses menjadi dokter tidak hanya ditentukan oleh hasil satu kali ujian, tetapi juga oleh perkembangan kompetensi yang dibangun setiap hari selama masa pendidikan. Karena itu, paradigma asesmen perlu berubah," katanya.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr Ahmad Hamim Sadewa, menilai programmatic assessment merupakan inovasi penting yang perlu terus dikembangkan dalam pendidikan kedokteran. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya memahami konsepnya, melainkan mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan yang telah lama berjalan. Ia berharap dengan sistem asesmen yang lebih komprehensif tersebut, kualitas lulusan dokter di Indonesia dapat terus meningkat.

"Melalui sistem asesmen yang dikembangkan seperti ini, diharapkan kualitas lulusan dokter dari UMY, dan secara lebih luas kualitas pendidikan kedokteran di Indonesia, dapat terus meningkat dan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu," ujarnya.

Sementara itu, Manajer UGM Press, Dr I Wayan Mustika, menyebut penerbitan buku tersebut sebagai kontribusi nyata dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi. Ia menegaskan bahwa kurikulum berbasis capaian pembelajaran atau Outcome-Based Education (OBE) tidak akan mencapai hasil optimal tanpa sistem asesmen yang baik.

Menurutnya, buku yang diterbitkan UGM Press itu menawarkan solusi konkret melalui konsep programmatic assessment yang memungkinkan perbaikan berkelanjutan terhadap implementasi kurikulum. Ia juga berharap gagasan yang tertuang dalam buku tersebut tidak hanya menjadi referensi bagi pendidikan kedokteran dan kesehatan masyarakat, tetapi juga menginspirasi pengembangan sistem pendidikan di berbagai bidang lainnya.

"Kami merasa sangat senang buku ini akhirnya dapat diterbitkan dan dimanfaatkan sebagai referensi bagi para akademisi maupun praktisi pendidikan," ujarnya.

Acara bedah buku yang berlangsung secara hibrid ini menghadirkan dua pembedah utama dari internal FK-KMK UGM. Keduanya adalah Prof dr Rr Titi Savitri Prihatiningsih MA MMedEd PhD dari Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika, serta Prof dr Eggi Arguni SpA(K) MSc PhD selaku Ketua Program Studi Kedokteran

Read Entire Article
Politics | | | |