Generasi Baru Pemain Muslim Jawab Sentimen Islamofobia Eropa di Piala Dunia

1 day ago 17

REPUBLIKA.CO.ID,Selama beberapa dekade, Islam kerap dijadikan komoditas politik yang memicu kontroversi di Eropa. Di Piala Dunia 2026 yang menjadi panggung terbesar sepak bola dunia, generasi baru pesepakbola Muslim justru membuktikan bahwa iman Islam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tatanan masyarakat Benua Biru.

Diperkirakan terdapat dua miliar umat Islam di seluruh dunia, atau sekitar seperempat dari total populasi global. Maka, dalam gelaran Piala Dunia yang menampilkan 13 negara mayoritas Muslim, ekspresi keagamaan di muka umum sejatinya bukanlah hal yang mengejutkan.

Meski demikian, beberapa aksi pemain Muslim  yang paling ramai dibicarakan justru lahir dari para pemain yang membela negara-negara mayoritas Kristen. Lamine Yamal, talenta muda yang menjadi andalan lini serang Spanyol dan FC Barcelona, mencuri perhatian publik saat melakukan selebrasi sujud usai mencetak gol pertamanya di Piala Dunia ke gawang Arab Saudi.

Dilansir dari laman Middle East Eye, Identitas keyakinan Yamal sebenarnya telah menjadi sorotan sejak Maret lalu dalam laga persahabatan antara Spanyol dan Mesir di kota kelahirannya, Barcelona. Kala itu, sebagian penonton di tribun menyanyikan yel-yel provokatif, "Musulman el que no bote" ("Siapa yang tidak melompat adalah Muslim").

Yamal merespons nyanyian tersebut di media sosialnya dengan tenang: "Saya seorang Muslim, alhamdulillah... Sepak bola ada untuk menghibur dan merangkul [semua orang], bukan untuk menunjukkan rasa tidak hormat kepada sesama karena perbedaan keyakinan."

Sentimen tersebut tidak muncul begitu saja. Di berbagai pelosok Eropa, kelompok kanan jauh—yang kini kian merambah ke partai-partai politik arus utama—terus berupaya menciptakan dikotomi palsu: mempertentangkan Eropa Kristen dengan kekuatan Islam yang dianggap "asing".

Padahal, agama Kristen sendiri lahir di kawasan Timur Tengah, wilayah yang sama tempat Islam berkembang sekitar enam abad setelah penyaliban Kristus.

Asing di negeri sendiri

Yamal bukanlah satu-satunya pesepak bola Eropa yang harus mengalami perlakuan diskriminatif dan dianggap "asing" oleh pendukung timnya sendiri.

Pada 2024, bek tengah timnas Jerman, Antonio Rudiger, menandai awal bulan suci Ramadhan dengan mengunggah foto di Instagram yang menampilkan dirinya mengacungkan jari telunjuk—sebuah simbol tauhid yang melambangkan keesaan Allah SWT.

Ekspresi iman yang sejatinya biasa saja tersebut justru dimanfaatkan oleh pimpinan redaksi media Bild Zeitung, Julian Reichelt, untuk menuding Rudiger menyebarkan simbol kelompok ekstremis.

Read Entire Article
Politics | | | |