loading...
Ada kisah menarik yang disampaikan ulama tentang kisah Mikraj Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha, yakni sandal Baginda Rasul ikut diizinkan masuk ke wilayah yang tak seorang pun pernah diizinkan, kecuali hanya Rasulullah disebabkan ketinggian maqamnya yang
Ada satu hal yang menarik yang diperbincangkan oleh para ulama, sebagaimana dibahas oleh al-Imam Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Al-Imam Nawawi, bahkan Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki di dalam karya mereka mengenai peristiwa Isra Mikraj tentang kehebatan terompah atau sandal yang pernah digunakan oleh baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam saat ikut masuk ke wilayah Sidratul Muntaha tersebut.
Mereka sepakat mengatakan bahwa terompah atau sandal yang melekat di kaki Rasulullah SAW lebih mulia dari semua maqam, sebab sandal tersebut ikut diizinkan masuk menyertai Rasulullah masuk ke wilayah yang tak seorang pun pernah diizinkan, kecuali hanya Rasulullah disebabkan ketinggian maqamnya yang melebihi makhluk yang lainnya.
Sandal itu meskipun di berada di bumi, diinjak oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam selama kesehariannya.
Menurut Ustaz DR Miftah el-Banjary, Pimpinan Majelis Dalail Khairat Komunitas Indonesia-Malaysia, dengan berkah Baginda Nabi SAW, kulit sandalnya yang selalu bersentuhan dengan kulit mulia baginda Rasulullah, maka dia pun mendapatkan kemuliaan bersama Rasulullah.
Baca juga: Tadabur Surat An-Najm Ayat 13-18: Kisah Perjalanan Mikraj Nabi SAW ke Sidratul Muntaha
Maka hikmah dan pelajaran serta pesan luar biasa yang disampaikan oleh para ulama besar tersebut bahwa siapa pun akan bisa menjadi ikut mulia -meski sandal benda mati- jika senantiasa berhubungan dan berdekatan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Sekiranya sandal Rasulullah saja begitu mulia, bisa terbang dan sampai masuk hingga ke maqam tertinggi, maka bayangkan dengan kita yang para umatnya yang mencintai Rasulullah dan senantiasa menyertai-nya dengan memperbanyak bershalawat dengan Rasulullah, apakah kita tidak akan mencapai derajat kemuliaan yang lebih pantas dari sekadar sandal saja?
Maka marilah kita memperbanyak membaca salawat, sebagai bukti kecintaan serta kerinduan kita pada Sayyidil Wujud baginda al-Mustaha Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam dengan harapan selawat itulah yang akan menyampaikan kita ke maqam wushul ilallah; derajat makrifat kepada Allah.
Dalam Islam, perjalanan Isra Mikraj merupakan bentuk kecintaan Allah Ta'ala pada kekasih-Nya Rasulullah Al-Musthafa صلى الله عليه وسلم. Sebuah perjalanan melintasi berbagai dimensi waktu yang sangat mengagumkan di luar nalar batas logika manusia. Oleh karena itulah, mengapa perjalanan Isra Mi'raj yang terjadi dalam satu malam itu disebut sebagai "Mukjizatul Kubra" atau mukjizat terbesar.
Baca juga: Inilah Gambaran Sidratul Muntaha Menurut Ibnu Katsir
(wid)















































