REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hipertensi atau tekanan darah tinggi dinilai masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Penyakit ini kerap dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh senyap karena sering tidak menimbulkan gejala, namun dapat memicu komplikasi berat seperti stroke, gagal ginjal, hingga penyakit jantung koroner jika tidak ditangani dengan baik.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Universitas Sebelas Maret (UNS), dr Evi Liliek Wulandari, mengatakan hipertensi merupakan gangguan kesehatan kronis yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah pada dinding arteri melebihi batas normal. "Tekanan darah diukur melalui dua angka, yaitu sistolik saat jantung berkontraksi dan diastolik saat jantung berelaksasi. Berdasarkan standar WHO, seseorang dinyatakan hipertensi apabila tekanan sistolik mencapai atau melebihi 140 mmHg dan/atau diastolik 90 mmHg," kata dr Evi dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (22/1/2026).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada 2023 sekitar 33 persen penduduk dunia menderita hipertensi, dengan konsentrasi kasus tertinggi berada di negara-negara berkembang. Menurut dr Evi, tekanan darah tinggi disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan. Sejumlah faktor bersifat permanen dan tidak dapat diubah, seperti usia, jenis kelamin, dan faktor genetik. Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia, umumnya setelah pria berusia 45 tahun dan wanita 55 tahun.
Individu dengan riwayat keluarga hipertensi juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Selain itu, jenis kelamin turut memengaruhi, di mana pria cenderung lebih rentan mengalami hipertensi di usia muda, sementara risiko pada wanita meningkat saat memasuki usia lanjut.
Faktor yang dapat dikendalikan sebagian besar berkaitan dengan gaya hidup. Kurangnya aktivitas fisik dapat memicu kenaikan berat badan dan obesitas, yang membuat jantung harus bekerja lebih keras memompa darah. Konsumsi garam berlebihan juga meningkatkan kadar natrium dalam tubuh sehingga menambah volume darah dan menaikkan tekanan darah.
"Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol turut berkontribusi karena dapat merusak pembulu darah dan menyebabkan penyempitan aliran darah. Stres berkepanjangan serta kurang tidur juga berperan dalam meningkatkan tekanan darah melalui pelepasan hormon tertentu," ujar dr Evi.
Untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi, dr Evi menekankan pentingnya penerapan gaya hidup sehat secara konsisten. Pola makan seimbang dengan memperbanyak buah, sayur, gandum utuh, serta protein rendah lemak dianjurkan, disertai pembatasan kolesterol dan garam.

2 hours ago
2














































