Ilmu dan Ekosistem Kebangkitan Peradaban

1 hour ago 2

Oleh : Prof. Nur Hadi Ihsan, Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmu tidak tumbuh dalam kesunyian. Ia memerlukan gesekan, pertukaran gagasan, debat yang menajamkan argumen, kritik yang memurnikan pemahaman. Seorang manusia yang belajar sendirian seperti pohon yang tumbuh tanpa angin: batangnya rapuh karena tidak pernah diuji oleh badai.

Para ulama klasik memahami ini dengan mendalam. Mereka tidak hanya membaca, tetapi berguru. Tidak hanya menulis, tetapi berdiskusi. Tidak hanya menghafal, tetapi memperdebatkan. Imam Syafi'i berkata: "Ilmuku bersama orang lain, seperti aroma kasturi yang semakin harum bila digosok." Ini bukan metafora semata, ini adalah kesadaran eksistensial bahwa ilmu adalah fenomena relasional.

Ketika al-Ghazali meninggalkan Baghdad dan menyendiri, ia justru menemukan keterbatasan kesendiriannya. Ia kembali mengajar bukan karena panggilan akademis, tetapi karena kesadaran bahwa ilmu mati tanpa transmisi.

Ilmu yang tidak dikomunikasikan adalah cahaya yang terperangkap dalam cermin tertutup—ia bersinar, tetapi tidak menerangi.

Lingkungan Sebagai Arsitektur Jiwa

Malik bin Nabi dengan tajam mengidentifikasi bahwa peradaban tidak lahir dari individu jenius yang terisolasi, melainkan dari milieu yang subur—lingkungan yang menciptakan, memelihara, dan mereproduksi gagasan. Seperti sel-sel dalam organisme hidup, setiap anggota komunitas ilmu berperan dalam metabolisme intelektual yang lebih besar.

Inilah yang hilang dalam pendidikan modern: kita mengajarkan konten tanpa membangun konteks. Kita meluluskan sarjana tanpa menumbuhkan tradisi. Mahasiswa lulus dengan gelar tetapi tidak dengan kebiasaan membaca. Mereka memiliki ijazah tetapi tidak memiliki atmosfer ilmiah tempat mereka bisa terus tumbuh.

Prof. Hamid Fahmy menegaskan bahwa tempat mengubah manusia. Seorang yang hidup di antara pedagang, akan berpikir seperti pedagang. Seorang yang hidup di antara artis, akan melihat dunia dengan mata artistik. Seseorang yang hidup di antara ulama akan bernafas dengan udara ilmu.

Tasawuf mengajarkan konsep suhbah—kedekatan yang menular. Tetapi yang sering dilupakan: ini bukan monopoli spiritual. Suhbah intelektual sama pentingnya. Ketika Anda duduk dengan orang yang gemar membaca, Anda akan tertular kegemaran membaca. Ketika Anda berbincang dengan pemikir yang kritis, pikiran Anda ikut terasah. Ketika Anda berada dalam komunitas yang menghargai kedalaman, Anda akan alergi terhadap kedangkalan.

Dari Halaqah ke Revolusi Epistemologis

Tradisi halaqah—lingkaran belajar—adalah teknologi sosial yang jenius. Bukan sekadar pertemuan, tetapi arsitektur pembelajaran yang menghapus hierarki kaku sambil mempertahankan adab. Guru tidak berdiri di atas panggung yang tinggi; ia duduk bersama murid-muridnya dalam lingkaran. Geometri ini bukan kebetulan—ia adalah pernyataan filosofis: ilmu adalah percakapan, bukan indoktrinasi.

Dalam halaqah, murid tidak hanya mendengar tetapi terlibat. Mereka bertanya, menyanggah, meminta klarifikasi. Guru tidak merasa terancam oleh pertanyaan kritis; justru ia merayakannya sebagai tanda bahwa ilmu sedang hidup dan bergerak. Ibnu Taimiyyah bahkan pernah mengubah pandangannya setelah berdebat dengan muridnya. Ini bukan kelemahan—ini adalah kejujuran intelektual yang membuat tradisi Islam tetap dinamis selama berabad-abad.

Komunitas ilmu yang sejati menciptakan apa yang bisa disebut ekosistem epistemologis: sistem pengetahuan yang mengatur dirinya sendiri, memperbaiki kesalahannya, dan berevolusi tanpa kehilangan identitas. Seperti hutan hujan yang menjaga keseimbangan ekologisnya, komunitas ilmu menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, antara otoritas dan kebebasan berpikir.

Dialektika Kritis: Api yang Memurnikan

Ilmu tanpa kritik adalah dogma yang menunggu kematian. Al-Ghazali menulis Tahafut al-Falasifah untuk mengkritik para filosof Muslim yang ia anggap menyimpang. Ibn Rusyd membalas dengan Tahafut al-Tahafut, membongkar argumen al-Ghazali. Ini bukan pertengkaran—ini adalah cinta terhadap kebenaran yang lebih besar dari ego individu.

Dalam komunitas ilmu yang sehat, kritik adalah tanda kehormatan. Anda bukan mengkritik musuh Anda; Anda mengkritik karya yang Anda anggap penting untuk diperbaiki. Kritik adalah bentuk perhatian intelektual yang tertinggi. Sebaliknya, kultur yang mengharamkan kritik adalah kultur yang telah menyerah pada kemunduran.

Inilah yang membedakan komunitas ilmu dari kelompok ideologis: komunitas ilmu mencari kebenaran, sementara kelompok ideologis mempertahankan keyakinan. Komunitas ilmu melihat kesalahan sebagai peluang untuk belajar; kelompok ideologis melihat kesalahan sebagai ancaman yang harus ditutupi.

Peradaban Islam di masa keemasannya tidak takut pada perbedaan pendapat. Imam-imam mazhab berbeda dalam banyak hal, tetapi mereka saling menghormati. mutakallimun, fuqaha, dan falasifah berdebat keras, tetapi mereka tetap membaca karya satu sama lain. Karena mereka tahu: kebenaran tidak datang dari konsensus artifisial, tetapi dari dialektika yang jujur.

Generasi Sebagai Estafet Cahaya

Generasi adalah unit waktu peradaban. Satu generasi yang hilang berarti satu mata rantai terputus. Ketika mata rantai terputus, tradisi menjadi legenda, ilmu menjadi artefak museum.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya oleh muridnya: "Sampai kapan kita harus mencari ilmu?" Ia menjawab: "Sampai mati." Bukan karena kesempurnaan tidak pernah tercapai, tetapi karena generasi berikutnya memerlukan model hidup—bukan hanya teks mati. Mereka perlu melihat bagaimana seorang alim berpikir, bagaimana ia meragukan, bagaimana ia sampai pada kesimpulan.

Inilah fungsi sejati komunitas ilmu: menjadi living tradition—tradisi yang hidup. Tradisi bukan fosil yang dipajang, tetapi organisme yang bernafas, tumbuh, dan beradaptasi. Ketika generasi baru memasuki komunitas ini, mereka tidak hanya menerima warisan pengetahuan, tetapi juga cara berpikir, etika bertanya, dan keberanian untuk melampaui guru mereka.

Teknologi dan Komunitas: Peluang dan Ilusi

Era digital menawarkan kemungkinan yang belum pernah ada sebelumnya: seseorang di Jakarta bisa berdiskusi dengan ulama di Madinah; seseorang di kampung bisa mengakses perpustakaan Alexandria yang digital. Tetapi teknologi juga menciptakan ilusi komunitas—kita terkoneksi tetapi tidak terhubung, kita berbicara tetapi tidak berdialog.

Komunitas ilmu digital mudah terfragmentasi menjadi echo chamber—ruang gema tempat kita hanya mendengar pendapat yang memperkuat bias kita. Algoritma media sosial membuat kita nyaman dengan menyaring perbedaan, tetapi kenyamanan adalah musuh pertumbuhan intelektual.

Maka tantangan kita: bagaimana menggunakan teknologi untuk memperluas jangkauan tanpa kehilangan kedalaman? Bagaimana membangun komunitas digital yang mempertahankan adab dialog, kerendahan hati intelektual, dan komitmen pada kebenaran di atas popularitas?

Jawabannya mungkin hibrida: komunitas digital yang diperkuat dengan pertemuan fisik berkala. Online untuk jangkauan, offline untuk kedalaman. Virtual untuk berbagi informasi, tatap muka untuk transformasi karakter.

Manifesto Untuk Generasi Kebangkitan

Jika kita serius tentang kebangkitan peradaban Islam, kita tidak bisa menunggu pemerintah membangunkan universitas megah atau donor kaya mendanai perpustakaan raksasa. Kebangkitan dimulai dari hal kecil yang dilakukan dengan konsisten:

Pertama, bentuklah halaqah—meski hanya lima orang yang bertemu sepekan sekali untuk membaca dan mendiskusikan satu buku penting. Lima orang yang serius lebih berharga dari lima ribu yang pasif.

Kedua, budayakan kritik konstruktif. Jangan takut salah, takutlah pada arogansi yang menghalangi kita belajar dari kesalahan. Ciptakan ruang aman untuk berpikir keras, bertanya bodoh, dan mengubah pendapat.

Ketiga, wariskan pengetahuan. Jangan mati dengan ilmu tersimpan di kepala atau hard disk. Tulislah, ajarkanlah, bicaralah. Ilmu yang tidak ditransmisikan adalah ilmu yang dikubur hidup-hidup.

Keempat, pelihara adab. Komunitas tanpa adab adalah kawanan, bukan jamaah. Adab mengajarkan kita kapan berbicara dan kapan mendengar, kapan tegas dan kapan lembut, kapan mengkritik dan kapan mendukung.

Kelima, bersabarlah dengan proses. Peradaban tidak dibangun dalam satu generasi. Mungkin kita tidak melihat hasilnya, tetapi kita menanam benih. Seperti kata pepatah Arab: "Mereka yang menanam pohon korma tahu bahwa mereka tidak akan memetik buahnya—mereka menanam untuk generasi yang akan datang."

Epilog: Taman Ilmu yang Hidup

Komunitas ilmu adalah taman hidup peradaban. Ia tidak dibangun oleh menara gading dan slogan besar, tetapi oleh lingkaran-lingkaran kecil manusia yang setia belajar, berdialog, dan saling menumbuhkan. Di dalamnya, setiap individu memberi dan menerima: yang kuat mengokohkan, yang lemah dikuatkan, yang gugur menyuburkan generasi berikutnya. Peradaban Islam tidak bangkit karena monumen, tetapi karena tradisi ilmu yang hidup—yang bernafas dalam kebiasaan membaca, keberanian berpikir, dan kesediaan mewariskan cahaya.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah peradaban bisa bangkit, tetapi di mana ia akan dimulai?. Jika ilmu terus dipelajari sendirian, ia akan padam pelan-pelan; tetapi jika ia dibagi, diperdebatkan, dan diwariskan, ia akan menjadi api yang menjalar. Carilah satu atau dua jiwa yang sama gelisahnya, duduklah, bacalah, dan berbicaralah dengan jujur—sebab sejarah besar sering lahir bukan dari keramaian, melainkan dari satu keputusan sunyi: hari ini, aku memilih tidak berjalan sendirian

Wallahu a'lam.

Mantingan, 20 Januari 2026

Read Entire Article
Politics | | | |