Pemerintah optimistis Indonesia berpeluang keluar dari pola pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen yang berlangsung selama bertahun-tahun. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah optimistis Indonesia berpeluang keluar dari pola pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen yang berlangsung selama bertahun-tahun. Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ditargetkan menembus 5,5 hingga 6 persen.
Dalam paparannya pada Indonesia Economic Outlook 2026 yang juga digelar hari ini, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan target pertumbuhan kuartal I 2026 berada di rentang 5,5–6 persen, dengan target tahun penuh 5,4–6 persen.
“Kalau ini terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” ujar Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026) lalu.
Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen secara tahunan. Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan bahkan mencapai 5,39 persen. Pemerintah menilai tren tersebut menjadi modal awal memasuki 2026.
Untuk menjaga momentum, belanja negara pada kuartal I 2026 diproyeksikan mencapai Rp 809 triliun. Pemerintah juga menggulirkan berbagai stimulus, termasuk percepatan program dan dorongan konsumsi masyarakat.
Tunjangan Hari Raya (THR) ASN/TNI/Polri sebesar Rp 55 triliun juga disiapkan pada awal tahun. Momentum Ramadhan dan Idul Fitri dinilai dapat mengerek konsumsi rumah tangga.
Dari sisi sektor riil, indikator aktivitas ekonomi menunjukkan perbaikan. Indeks manufaktur (PMI) kembali berada di zona ekspansif pada Januari 2026 di level 52,6. Penjualan ritel serta kendaraan juga menguat pada akhir 2025.
Pemerintah menilai kombinasi belanja fiskal, penguatan likuiditas, dan stabilitas makro menjadi fondasi percepatan pertumbuhan. Defisit APBN 2026 tetap dijaga sebesar 2,68 persen dari PDB, di bawah batas 3 persen.
“Kalau kita jaga dengan baik, kita bisa ekspansi terus sampai 2033,” ujar Purbaya.

2 hours ago
5















































