Presiden RI Prabowo Subianto.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di bawah langit musim dingin Swiss yang membeku pada Rabu (21/1/2026), sebuah kehangatan tak terduga menyeruak di antara barisan penyambutan kenegaraan. Bagi warga Indonesia di perantauan, bertemu dengan sosok nomor satu Republik adalah peristiwa langka yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Namun, bagi dua anak diaspora, Narendra dan Tanaya, hari itu bukan sekadar catatan agenda diplomatik, melainkan sebuah memori emas yang akan mereka simpan selamanya di dalam hati.
Narendra, bocah berusia 12 tahun yang kini menempuh pendidikan di Manuel, Bern, berdiri dengan wajah penuh harap di antara kerumunan. Di tengah formalitas kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Swiss, Narendra tampak tak kuasa menyembunyikan letup kegembiraannya. Baginya, Presiden bukan sekadar pemimpin jauh di seberang samudra, melainkan sosok "bapak" yang kehadirannya membawa aroma tanah air ke negeri pegunungan Alpen tersebut.
"Nama aku Narendra, umur 12 tahun," ujarnya dengan mata berbinar saat menceritakan pengalamannya. Mengenakan pakaian hangat untuk menghalau dinginnya udara Swiss, antusiasmenya justru membara. "Happy banget sih!" tambahnya singkat, namun sarat akan makna kebahagiaan yang jujur khas anak-anak.
Momen puncak yang membuat jantung Narendra berdegup kencang adalah saat tangan kecilnya disambut oleh jabat tangan hangat sang Presiden. Tak hanya itu, sebuah sapaan singkat dari Presiden Prabowo seolah menjadi kado terindah bagi bocah sekolah di Bern tersebut. "Beliau bilang aku ganteng," ucap Narendra sembari tersenyum semringah, sebuah pengakuan sederhana dari seorang Kepala Negara yang berhasil membangkitkan rasa percaya diri dan kebanggaan luar biasa dalam dirinya.
Kebahagiaan yang sama terpancar dari wajah Tanaya. Di tanah rantau yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, kesempatan untuk berada dalam jarak sedekat itu dengan pemimpin negaranya adalah pengalaman emosional yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Antusiasme Tanaya mencerminkan kerinduan kolektif masyarakat diaspora Indonesia; sebuah rasa bangga yang meletup saat melihat bendera merah putih berkibar berdampingan dengan panji-panji internasional.
Penyambutan humanis dari anak-anak diaspora ini memberikan warna berbeda di tengah ketatnya protokol kunjungan kenegaraan. Di balik diskusi-diskusi strategis dan pertemuan tingkat tinggi yang diagendakan, interaksi tulus antara Presiden Prabowo dengan Narendra dan Tanaya menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati selalu memiliki ruang bagi generasi masa depan. Bagi Narendra dan Tanaya, Swiss hari itu tidak lagi terasa dingin, karena kehadiran sang Presiden telah menghadirkan sepotong kehangatan Indonesia di jantung Eropa. Sekretariat Kabinet RI Kementerian Luar Negeri RI
sumber : Antara

1 hour ago
2















































