Ilustrasi pemuda Arab melestarikan budaya di Saudi.
REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Kerajaan Arab Saudi kini memiliki cara yang sangat keren dan kekinian dalam mengenalkan esensi ibadah haji kepada generasi Z melalui kolaborasi antara spiritualitas dan diplomasi kepemudaan.
Alih-alih hanya melalui literatur konvensional, kedaulatan visual dan pengalaman langsung menjadi kunci bagi para pemuda muslim dunia untuk menyaksikan bagaimana teknologi masa depan dan manajemen modern berpadu sempurna dalam menjaga tradisi agung di tanah suci.
Pada Selasa (20/1/2026), Kementerian Olahraga Arab Saudi secara resmi meluncurkan program “Perjalanan ke Tempat-Tempat Suci” yang berlangsung serentak di Makkah, Madinah, dan Jeddah. Program yang dijadwalkan berakhir pada 29 Januari ini melibatkan sekelompok anak muda terpilih dari berbagai negara Arab dan Islam, bekerja sama dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta Liga Arab.
Inisiatif ini dirancang sebagai jembatan komunikasi budaya untuk memperlihatkan upaya terpadu Kerajaan dalam melayani tamu Allah serta menonjolkan peran vital kaum muda dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan olahraga nasional.
Para peserta diajak melakukan kunjungan lapangan yang mendalam ke lokasi-lokasi sakral dalam rangkaian ibadah haji. Salah satunya adalah Arafat, yang dianggap tempat suci paling krusial karena merupakan lokasi puncak ibadah haji melalui prosesi wukuf. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah perpisahan (Wada'), dan secara spiritual diyakini sebagai momen di mana Allah membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat serta tempat pengampunan dosa yang paling luas.
Selanjutnya, program ini membawa mereka ke Muzdalifah, wilayah terbuka antara Arafat dan Mina yang menjadi tempat bermalam (mabit) jemaah haji setelah terbenamnya matahari di hari Arafah. Kesucian tempat ini ditegaskan dalam Al-Qur'an sebagai Al-Masy'ar al-Haram, di mana jemaah diinstruksikan untuk banyak berdzikir kepada Allah sebagai simbol ketundukan total sebelum melanjutkan ritual berikutnya.
Perjalanan edukasi ini berlanjut ke Mina, yang dikenal sebagai kota tenda terbesar di dunia. Mina memiliki status suci karena merupakan tempat jemaah haji melaksanakan ritual lempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan, serta tempat bermalam selama hari-hari Tasyrik. Keberadaan Mina menjadi saksi sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketaatan Nabi Ismail yang menjadi akar dari ibadah kurban.
Selain Makkah, para pemuda ini juga bertolak menuju Madinah Al-Munawwarah, kota yang memancarkan ketenangan dan kedamaian spiritual bagi setiap pengunjungnya. Madinah memiliki kekhasan unik sebagai kota yang dipilih Allah untuk menjadi tempat hijrah Nabi Muhammad SAW dan pusat dari peradaban Islam pertama. Landmark sejarah di kota ini, mulai dari Masjid Nabawi hingga museum budaya, memberikan gambaran utuh tentang biografi Rasulullah yang membentuk tatanan sosial dunia.

1 hour ago
3















































