Internally displaced Palestinians move between the ruins of destroyed buildings at Al Rashid road in the west of Gaza City on, 06 January 2026, amid a ceasefire between Israel and Hamas. Around 1.9 million people in Gaza, nearly 90 percent of the population, have been displaced since the Israel-Hamas conflict began in October 2023, according to the UN.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Israel kembali menyebar selebaran udara di wilayah selatan Gaza untuk memerintahkan puluhan keluarga Palestina agar meninggalkan rumah mereka. Penyebaran selebaran tersebut menjadi perintah evakuasi paksa pertama sejak gencatan senjata rapuh berlaku efektif pada Oktober lalu, menurut laporan Reuters.
Laporan tersebut mengutip keterangan warga Bani Suhaila, kawasan timur Kota Khan Younis, yang menyatakan bahwa selebaran tersebut dijatuhkan pada Senin (19/1/2026) di wilayah permukiman tenda di lingkungan Al-Reqeb, Kota Bani Suhaila.
Selebaran yang ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Inggris itu berbunyi:
“Penting. Wilayah ini berada di bawah kendali IDF (Tentara Israel). Anda harus segera mengungsi.”
Terus dilanggar
Gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat (AS) telah berlaku sejak Oktober tahun lalu berdasarkan rencana perdamaian 20 poin dari Presiden AS Donald Trump untuk Gaza. Meski demikian, sejak saat itu, Israel terus melakukan pelanggaran dengan menewaskan lebih dari 466 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.294 orang, lapor Palestine Chronicle.
Tentara pendudukan Israel (IDF) menyangkal bahwa mereka memerintahkan keluarga-keluarga untuk mengungsi. Tentara penjajah mengklaim bahwa selebaran tersebut hanya peringatan agar warga tidak melintasi "Garis Kuning" (Yellow Line).
Reuters mencatat bahwa dalam dua tahun operasi militer di Gaza, Israel biasanya menjatuhkan selebaran sebelum menggempur atau membombardir suatu kawasan, menyebabkan mayoritas penduduk mengungsi dan kerusakan infrastruktur terparah sejak Perang Dunia II. Ribuan orang masih dinyatakan hilang.

1 hour ago
3















































