Job Hugging Melanda Dunia

2 hours ago 2

Image Dhevy Hakim

Politik | 2026-01-20 06:42:32

Job Hugging Melanda Dunia

Oleh: Dhevy Hakim

Fenomena "job hugging" tidak hanya melanda Indonesia tapi juga melanda Amerika sebagai negara adidaya. “Job hugging” merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan adanya kecenderungan untuk bertahan pada pekerjaan yang sama meskipun sudah tidak memiliki minat atau motivasi bekerja di tempat tersebut.

Kondisi ekonomi yang lesu, peningkatan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), dan pasar kerja yang tidak bergairah menjadi pemicu utama fenomena ini. Di tengah ketidakpastian ini, banyak pekerja memilih untuk "memeluk" pekerjaan mereka demi keamanan finansial dan stabilitas, meskipun kinerja perusahaan secara keseluruhan menjadi tidak optimal.

Guru Besar UGM (Universitas Gadjah Mada) menyebutkan bahwa faktor utama yang mendorong munculnya fenomena "job hugging" adalah ketidakpastian pasar kerja. Lulusan perguruan tinggi, yang seharusnya menjadi motor penggerak inovasi dan pertumbuhan ekonomi, justru terjebak dalam "job hugging" demi menghindari risiko pengangguran. Bagi mereka, lebih baik bekerja "asal" daripada menjadi pengangguran intelektual.

Adapun faktor lain yang memperparah fenomena ini adalah adanya kondisi ekonomi yang lesu, peningkatan PHK, pasar kerja yang tidak bergairah dan adanya ketakutan akan hadirnya AI yang berpotensi menggantikan pekerjaan manusia.

Lantas, apa yang harus dilakukan sebagai solusi menghentikan fenomena “job hugging” ini?

Fenomena "job hugging" diperlukan upaya bersama baik dari karyawan, perusahaan, dan pemerintah. Bagi karyawan sebaiknya sebelum masuk ke dunia kerja perlu mengidentifikasi minat dan bakatnya sehingga bekerja lebih enjoy sesuai yang diminati, mengembangkan keterampilan dan pengetahuan, mencari peluang baru, serta berani mengambil resiko untuk keluar dari zona nyaman yakni mencari pekerjaan yang lebih menantang dan memuaskan.

Adapun perusahaan sebagai langkah mencegah adanya “job hugging” harus menciptakan lingkungan kerja yang positif yang mendorong karyawan bisa berkembang dan berinovasi, memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawan agar mereka dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka, memberikan peluang karier yang jelas dan terstruktur bagi karyawan, dan mendengarkan masukan karyawan dan menanggapi kekhawatiran mereka.

Pemerintah sendiri sebagai pihak yang paling berkewajiban untuk mensejahterakan rakyatnya tentunya harus tanggap dan segera melakukan tindakan pencegahan terjadinya “job hugging” seperti menciptakan iklim investasi yang kondusif agar perusahaan dapat berkembang dan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kualitas pendidikan agar lulusan perguruan tinggi memiliki keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, memberikan pelatihan vokasi kepada masyarakat agar mereka memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari pekerjaan, serta memberikan jaminan sosial kepada masyarakat agar mereka tidak takut kehilangan pekerjaan.

Namun mewujudkan solusi tersebut sepertinya tidak mudah, sebab apabila ditelaah persoalan job hugging ini merupakan permasalahan yang kompleks dan multidimensi. Artinya untuk menyelesaikannya dibutuhkan solusi yang komprehensif. Upaya bersama dari karyawan, perusahaan, dan pemerintah dalam rangka mengatasi "job hugging" dan menciptakan pasar kerja yang lebih dinamis dan berkelanjutan akan terbentur dengan praktik ekonomi kapitalisme.

Ya, jika diuraikan dari akar persoalan yang menyebabkan timbulnya “job hugging” sejatinya adalah adanya ketidakpastian pasar kerja, sedangkan jaminan pekerjaan saat ini di tengah roda kapitalisme memang seolah-olah tidak ada, negarapun tidak memberikan jaminan pekerjaan kepada rakyatnya.

Kapitalisme yang memiliki asas sekulerisme telah melahirkan berbagai macam kebebasan (liberalisme) termasuk dalam perdagangan jasa. Sekalipun lulusan perguruan tinggi disiapkan adaptif dengan dunia kerja, tetapi prinsip liberalisasi perdagangan (termasuk perdagangan jasa) menjadikan negara lepas tangan dalam memastikan warganya bisa bekerja, untuk memenuhi kebutuhan dasar/pokok mereka.

Upaya pencegahan job hugging lebih sulit lagi diselesaikan dikarenakan adanya praktek ekonomi non riil dan ribawi sehingga minim menggerakkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja. Inilah yang menyebabkan fenomena job hugging akan senantiasa muncul di sistem ekonomi kapitalisme.

Berbeda dengan sistem Islam. Islam mewajibkan bagi pemimpin negara (Khalifah) untuk mengurusi setiap kebutuhan rakyatnya. Oleh karenanya pemimpin dalam sistem Islam dalam masalah pekerjaan berkewajiban menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki angkatan kerja maupun para suami yang punya kewajiban menafkahi keluarganya.

Negara juga memberikan bantuan seperti memberi modal berupa uang, tanah, alat-alat yang digunakan untuk menunjang pekerjaan semisal jika bertani dibantu dengan memberikan alat-alat pertanian dll. Bahkan negara menyiapkan sejak anak-anak laki-laki di usia pra baligh dari sisi keilmuan sehingga saat waktunya tiba menjalankan kewajiban mencari nafkah sudah mampu dan siap menjalankan kewajiban tersebut.

Mekanisme langsung juga diberikan oleh negara dengan memberikan bantuan kebutuhan pokok yang dibutuhkan bilamana ada laki-laki sebagai kepala keluarga dengan kondisi tidak bisa bekerja karena sakit atau kondisi fisik tidak memungkinkan untuk bekerja pasca kecelakaan.

Dengan demikian di dalam sistem Islam sangat dimungkinkan tidak terjadi yang namanya job hugging. Suasana kerja didorong atas dasar keimanan sehingga yang ada adalah suasana memberikan kontribusi semaksimal mungkin. Wallahu a’lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |