Karhutla di Enam Provinsi Belum Teratasi, BNPB: OMC Terkendala, Sumber Air Kering

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih ada ribuan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di enam provinsi. Hingga saat ini, bencana ekologis yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan itu masih belum bisa teratasi sepenuhnya. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, terdapat sejumlah kendala dalam penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Salah satunya adalah kondisi cuaca dan iklim yang membuat api dapat dengan cepat merambat dan sulit dipadamkan.

"Kelembapan udara yang kering ini dan hari tanpa hujan menyebabkan sulitnya kita menangani api dan mudahnya api menjalar, serta kita tidak mudah membuat operasi modifikasi cuaca (OMC) karena memang bibit awan tidak ada di atmosfer," kata dia saat konferensi pers secara daring, Selasa (25/8/2026).

Ia menambahkan, operasi darat yang dilakukan juga terkendala aksesibilitas dan keterbatasan ketersediaan air. Menurut dia, hal itu membuat petugas harus bekerja keras untuk bisa melakukan pemadaman melalui operasi darat.

"Sedangkan air yang tersedia relatif sudah surut, air yang ada di air permukaan yang ada di beberapa aliran air," ujar Berton. 

Tak hanya itu, karakteristik lahan yang terbakar juga membuat pemadaman tidak bisa dilakukan dengan cepat. Mengingat, sebagian area yang terbakar merupakan lahan gambut. 

Ia menjelaskan, lahan gambut merupakan batu bara muda yang sulit dipadamkan ketika terbakar. Pasalnya, api di lahan gambut hampir pasti menjalar hingga ke bagian bawah. Artinya, pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dengan mematikan api di permukaan, melainkan juga perlu dilakukan pendinginan dengan jumlah air yang tidak sedikit.

"Kalau pendinginan tidak dilakukan, mungkin 1 atau 3 jam, 5 jam kemudian, api yang sudah padam di permukaan akan terbakar lagi karena memang sifat gambut tersebut," kata dia.

Di sisi lain, kabut asap yang muncul juga menyulitkan operasi udara dilakukan. Pasalnya, kabut asap itu menyebabkan jarak pandang terbatas, sehingga penerbangan tidak mudah untuk dilanjutkan.

"Tentunya ini juga akan mempersulit ketika water bombing akan dilaksanakan," kata dia.

Meski begitu, Berton mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk melakukan penanganan. Salah satunya dengan berupaya melakukan OMC ketika terdapat bibit awan di atmosfer, sehingga ini memungkinkan untuk terjadinya hujan buatan.

Pihaknya juga terus berupaya memperkuat pasokan air dengan membuat sumur baru, embung, dan kanal. Hal itu dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Tak hanya itu, pihaknya juga telah menyediakan mobil-mobil tangki air serta flexible tank.

"Jadi flexible tank ini bisa lebih gampang diangkat dari tempat yang satu kepada tempat yang lain," kata dia.

Ia juga berharap dunia usaha dapat ikut serta menerjunkan personel dan peralatan untuk penanganan karhutla. Dengan begitu, penanganan di lapangan dapat semakin masif.

Di sisi lain, pemerintah disebut terus melakukan penegakan hukum kepada para pelaku pembakaran. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi pihak yang sengaja melakukan pembakaran hingga menyebabkan karhutla. 

"Kami sampaikan bahwa penegakan hukum ini tetap dilaksanakan oleh kementerian dan lembaga yang bersangkutan, sehingga ke depan tindakan penegakan hukum ini menjadi efek jera untuk tidak melakukan pembakaran," kata dia.

Berdasarkan data BNPB hingga Selasa sore, karhutla masih terjadi di enam provinsi, yaitu Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Adapun data titik api atau hotspot dan luasan lahan terbakar di masing-masing provinsi adalah sebagai berikut:

Sumatera Selatan: 1.517 hotspot; luas lahan terbakar 1.926 hektare lebih; jarak pandang 7 km.

Riau: 447 hotspot; luas lahan terbakar 15.736 hektare lebih; jarak pandang 3,5 km.

Jambi: 253 hotspot; luas lahan terbakar 379 hektare lebih; jarak pandang 1 km.

Kalimantan Barat: 1.836 hotspot; luas lahan terbakar 36.310 hektare lebih; jarak pandang 2,5 km.

Kalimantan Tengah: 1.396 hotspot; luas lahan terbakar 7.634 hektare; jarak pandang lebih dari 10 km.

Kalimantan Selatan: 473 hotspot; luas lahan terbakar 8.019 hektare lebih; jarak pandang di atas 10 km.

Total enam provinsi: 5.922 hotspot dan indikasi luas lahan terbakar 70.004 hektare lebih.

Read Entire Article
Politics | | | |