Keamanan Siber Jadi Penopang Ekonomi Digital, ABI Dorong Edukasi Masyarakat

8 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), yang diwakili PINTU, berpartisipasi dalam Festival Aman Digital 2026 yang diselenggarakan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan bertema "Kolaborasi Lintas Sektor Guna Mensukseskan Literasi Keamanan Siber Nasional" itu menyoroti pentingnya penguatan literasi keamanan siber untuk menjaga kepercayaan terhadap ekonomi digital.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga keuangan, komunitas, dan pelaku industri teknologi guna memperkuat kolaborasi dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN Satryo Suryantoro mengatakan Gerakan Nasional 90 Hari Literasi Keamanan Siber menjadi bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional Keamanan Siber.

"Keberhasilan literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi saja. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, media, maupun masyarakat luas," ujar Satryo dalam keterangan, Jumat (26/6/2026).

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mengantisipasi meningkatnya ancaman siber yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat maupun dunia usaha.

"Serangan siber hari ini bukan lagi sekadar soal sistem yang down, melainkan sudah menyasar sisi psikologis manusia melalui social engineering, kebocoran data pribadi, hingga maraknya disinformasi," kata Marulina.

Sementara itu, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI Daniel Apriandi mengatakan rendahnya literasi digital masih menjadi celah utama kejahatan siber.

"Kelompok usia 25-49 tahun adalah yang paling produktif sekaligus paling banyak disasar pelaku penipuan karena mereka paling aktif bertransaksi secara digital. Modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, hingga bahasa tubuh korban," ujar Daniel.

Read Entire Article
Politics | | | |